Selasa, 04 Desember 2012

Perlunya Paradigma Baru Pendidikan

Untuk membangun masyarakat terdidik, masyarakat yang cerdas, maka tidak mau harus merubah paradigma dan sistem pendidikan. Formalitas dan legalitas tetap saja menjadi sesuatu yang penting, akan tetapi perlu diingat bahwa substansi juga bukan sesuatu yang bisa diabaikan hanya untuk mengejar tataran formal saja. Maka yang Perlu dilakukan sekarang bukanlah menghapus formalitas yang telah berjalan melainkan menata kembali sistem pendidikan yang ada dengan paradigma baru yang lebih baik. dengan paradigma baru, praktik pembelajaran akan digeser menjadi pembelajaran yang bertumpu pada pada teori kognitif dan kontruktivistik. Pembelajaran akan berfokus pada pengembangan kemampuan intelektual yang berlangsung secara sosial dan kultural, mendorong siswa membanguan pemahaman dan pengetahuannya dendiri dalam konteks sosial, dan belajar dimulai daripengetahuan awal dan perspektif budaya. Tugas belajar didsain menantang dan menarik untuk mencapai derajat berfikir tingkat tinggi (Kamdi, 2008)

Dalam salah satu sambutannya, Mendiknas memberikan arah kebijakan mendasar dalam meletakan kerangka bagi pembangunan pendidikan masa mendatang. Dalam kesempatan tersebut dikemukakan bahwa paradigma pendidikan kita tidak  sekedar menempatkan manusia sebagai alat produksi. Manusia harus dipandang sebagai sumber daya yang utuh. Pendidikan terjebak pada teori-teori ekonomi neo-klasik, suatu teori yang menempatkan manusia sebagai alat-alat produksi, kemudian penguasaan IPTEK bertujuan menopang kekuasaan dan kepentingan kapitalis. (Kamdi, 2008:2)

Kelemahan terbesar dari lembaga-lembaga pendidikan dan pembelajaran kita menurut Purwasamita (2002 : 123) karena pendidikan tidak mempunyai basis pengembangan yang jelas. Lembaga pendidikan kita hanya dikembangkan berdasarkan model ekonomik untuk menghasilkan/membudayakan manusia pekerja (abdi dalem) yang sudah didetel menurut tata nilai yang berlatar (kapitalistik), sehingga tidak mengherankan bila output pendidikan menjadi manusia pekerja dan tidak berdaya, bukan manusia kretif pencipta ketrkaitan kesejahteraan dalam siklus rangkaian manfaat yang seharusnya menjadi hal yang paling esensial dalam pendidikan dan pembelajaran.

Pemikiran-pemikiran yang positif memberikan arahan bahwa sudah selayaknya jika dunia pendidikan diarahkan pada upaya perubahan  dan pengembangan prinsip-prinsip secara kompherensif dalam penyelenggaraan pendidikan dan pembelajaran. Seyogyanya peserta didik diberi bekal pengetahuan serta nilai-nilai dasar sebagai suatu pandangan hidup yang berguna bagi kehidupannya yang akan datang dalam masyarakat pluralis dalam berbagai aspek, jika dunia pendidikan berhasil melaksanakan tugas ini maka masyarakat kita akan berkembang menjadi masyarakat yang berkualitas secara moral maupun intelektual. Sebaliknya jika gagal maka generasi dimasa depan akan tidak mampu tampil sebagai sosok yang cerdas dan mampu menjunjung nilai-nilai luhur budayanya

Dalam proses pembelajaran misalnya, mengembangkan suasana keharmonisan melalui komunikasi dialogis terbuka, toleran dan tidak arogan seharusnya terwujud didalam aktivitas pembelajaran., suasana yang memberi kesempatan  luas bagi setiap peserta didik untuk berdialog dan mengajukan pertanyaan hal yang berkaitan dengan pengembangan diri dan potensinya. hal ini penting karena pendidik merupakan fasilitator dan akomodator pertanyaan  dan kebutuhan yang  terkait pendidikan secara terbuka, toleran dan tidak arogan. Hasil penelitian menunjukan bahwa pendidik yang mampu menumbuhkan suasana dialogis , seimbang dan tidak arogan dan selalu berusaha mendorong sikap positif akan mendorong terjadinya kefektivitasan proses pembelajaran.(Goldsmith, 1996). to be continue

0 komentar:

Posting Komentar