Lelaki tua renta
itu berdiri, tersenyum, lalu terkekeh bahagia. Terlihat rona kerinduan mendalam
yang kini terobati. Ya. Mereka yang berada di mobil biru adalah alasannya. “Byuh
byuuuh!”, suara orang tua itu keluar juga akhirnya. “Simbaaaah!”, sesosok gadis
kecil berkepang muncul dari balik pintu mobil. Langsung ia memeluk lelaki tua
itu. Lalu diboponglah gadis kecil oleh lelaki tua.
“Uh, cucu mbah
udah gede! Berat sekali sekarang sampai mbah ndak kuat nggendong”, ucapnya
kemudian.
Pak Mardi. Tua
bangka itu namanya Pak Mardi. Sudah sangat tua usianya. Seluruh permukaan
kulitnya keriput seperti jengger ayam. Pantas saja keriputnya terlihat
dimana-mana karena umurnya sudah kelewat kepala tujuh. Lelaki yang menjadi
saksi hidup kemerdekaan bangsa ini. Pak Mardi senang sekali kedatangan anak
cucunya. Tergambar jelas disenyumnya sejak kedatangan mobil biru tadi. Mobil
kelima yang datang kerumahnya. Ya. Di hari ke-27 Ramadhan lengkap sudah,
kesemua lima darah dagingnya datang menjenguk. Mereka berkumpul untuk menunggu syawal-an
nanti. Kali ini sangat istimewa, setelah dua tahun berpisah dengan semua anak
cucunya. Tahun kemarin hanya dua anaknya yang datang menimang cucu-cucunya.
Adapaun tahun ini adalah alasan yang paling memuaskan untuk ia tersenyum dan
tertawa penuh bahagia.
“Ayo siapa yang
mau ikut mbah memberi makan ayam?”, Pak Mardi mengajak cucu-cucunya.
“Ikuuuut!”,
serempak suara cucu-cucunya menyahut.
Beranjaklah mereka
ke kandang ayam dibelakang rumah. “Ayam mbah banyak kan? Tadi sudah disembelih
empat buat buka bersama nanti. Dulu pas mbah kecil, jarang sekali lho makan
ayam. Sekarang sudah jaman enak, tiap hari bisa makan ayam. Dulu ya kalo
lebaran saja. Itu saja hanya bisa makan sedikit, karena harus dibagi-bagi sama
tamu yang datang bodonan (berlebaran),” Pak Mardi membuka cerita.
“Wah berarti orang
jaman dulu kurus-kurus dan kurang gizi ya mbah?”, potong Doni, cucu Pak Mardi
yang sudah duduk dibangku SMP.
“Ya iya le. Wong
makannya saja hanya sehari sekali. Dulu pas jaman perjuangan, kita sering
dirampok DI. Rumah mbah juga pernah dibakar hangus tak tersisa. Ya tentu
setelah disatroni harta benda dan pangannya.”
“DI itu apa sih
mbah?”, Ika menyela cerita.
“DI itu pasukan
pemberontak yang mau merebut kemerdekaan Indonesia. Mereka itu ya pasukan PKI,”
jelas Pak Mardi. Sebenarnya DI adalah kepanjangan dari Daulah Islamiyah.
Kelompok yang berusaha merubah ideologi bangsa ini menjadi negara islam, bukan
PKI. Tapi bagi orang-orang tak berpendidikan seperti Pak Mardi tak ada bedanya
antara DI dan PKI. Karena saat itu sangat kabur isu DI dan PKI. Jangankan
mereka yang buta huruf, bodoh, mudah dibohongi. Yang berpendidikan saja sampai
sekarang masih simpang siur tentang keabsahan cerita PKI dan DI semacam itu. Maka,
semua tak ada bedanya. Yang jelas bagi mereka, keduanya sama-sama memberontak
sumpah tanah air 17 Agustus ‘45. Menyengsarakan rakyat kecil dengan memberontak
habis harta benda. Membunuh rakyat tak tahu menahu dosa. Massal pula.
“Beras, ubi-ubian,
jagung dan persedian makanan di kondong (tempat penyimpanan cadangan
makanan) habis dirampas. Habis itu mbah cuma bisa makan ares gedang (isi
batang pohon pisang yang berwarna putih). Kalau makan enak ya nunggu setahun
itu. Itupun ndak tentu le! Tergantung pangasih Gusti Pengeran”, Pak
Mardi melanjutkan ceritanya.
“Kasihan banget
mbah sih!” sahut gadis kecil yang rambutnya dikepang. Mendongak mukanya ke atas
melihat wajah kakeknya penuh iba.
“Ya begitulah
perjuangan cucu-cucuku! Perjuangan memang menyedihkan, tapi akan selalu indah saat
merengkuhnya. Kita berkorban memepertahankan kedaulatan untuk masa depan anak-cucu.
Untuk kalian. Makanya kalian belajar yang rajin! Jangan cuma main saja kerja
kalian. Perjuangan mbah diteruskan ya? Hayo kalian pada hafal Pancasila ndak?”,
Pak Mardi berseri melemparkan pertanyaan.
“Aku hafal, aku
hafal!” cucu-cucu Pak Mardi menjawab semangat. Mereka terkesima dengan cerita
hidup kakek mereka.
Hari sudah mulai
petang. Pak Mardi sudah selesai memberi makan ayam dibelakang sejak tadi.
Meskipun begitu dia terus khidmat bercerita kepada cucu-cucunya. Tetap dilokasi
kandang ayam.
“Ah mbah, mereka
masih kecil. Belum perlulah mengenal cerita pahit jaman perjuangan. Sudah beda
jaman mbah”, Sardi memotong cerita.
“Eh kamu.
Bisa-bisanya berkata seperti itu. Perjuangan ini belum berakhir”, Pak Mardi tak
mau dibelokkan ajakan propaganda dalam ceritanya tadi. Terus menggerutu seperti
induk ayam yang diusik keturunannya.
“Sudah, sudah!
Sudah mau maghrib, ayo semua masuk kita kumpul dulu”, Sardi membelokkan, tak
mau meneruskan debat.
“Mbah Uti, mau es
degan!”, si kecil ompong mendekat neneknya yang sedang menyiapkan ta’jil-an
buka puasa.
“Loh! Kok ndak
puasa to le?”, nenek menggoda si kecil ompong. Nenek hanya berkelakar. Baru empat
tahun umur si kecil ompong, mana mungkin ia kuat menahan lapar dan dahaga.
Nenek pun memberikan segelas es kelapa muda kepada kecil ompong itu. Giranglah dia,
diseruputnya isi gelas dan dipeganya erat sambil berjalan ke arah ibunya yang
duduk tak jauh disamping nenek. Keluarga besar Pak Mardi berkumpul di
ruang tamu rumahnya. Karpet biru yang
terbentang pun sesak, karena enam belas orang duduk diatasnya. Semua menunggu
adzan maghrib berkumandang meskipun masih ada sekitar satu jam jeda itu berada.
“Anak cucuku!”,
suara Pak Mardi mengheningkan suasana di tengah sela-sela obrolan mereka yang
ada disana. “Kali ini simbah bahagia sekali! Semua bisa bergabung menikmati
kebersamaan ini. Alhamdulillah. Akhirnya kita bisa menatap diri satu sama lain
nggak seperti tahun kemarin. Masa kok di hari lebaran kita hanya bisa menikmati
kebersamaan lewat layar canggih milik Sardi.”
Anak-anaknya
bahagia melihat simbah tua mengakui kerinduannya. Semua larut dalam suasana
keakraban. Akhirnya, adzan yang ditunggu pun datang melengking. Santap makanan
segera menjadi acara selanjutnya bagi kumpulan keluarga ini. Tenggorokan yang
kaku seharian segar kembali kemudian.
Rembulan
samar-samar mengintip lewat kerutan garis awan. Suasana malam begitu hangat.
Hangat dengan shalawat khas yang dibacakan selepas shalat witir. Shalawat yang
biasa ditemani tabuhan kenthongan dan bedug. Tapi kehangatan yang ditawarkan
keadaan tak bisa dinikmati Pak Mardi sesampainya di rumah. Belum sempat ia
berganti pakaian. Masih bersarung, bersongkok dan berpakaian batik lengan
panjang. Ia mendadak cemberut, geram.
“E e e eeee! Dari
tadi kok belum berhenti? Ini racun macam apa lagi Pardi? Cucuku keracunan
begini kok dibiarkan saja? Ayo singkirkan benda beracun itu dari cucu-cucuku!
Tahun kemarin juga begini, sekarang kok masih belum berubah. Sudah ndak
tarawih, masih saja main beginian sejak maghrib tadi”, Pak Mardi jengkel
melihat cucunya.
“Sudah sudah!
Jangan mainan terus! Berhenti! Kasihan mata kalian sampe merah begitu!”, Pardi
merebut stick yang ada di tangan anak-anak kecil.
“Ah nanti Om!
Nanggung, bentar lagi!”, Roni memaksa Omnya untuk mengembalikan.
“Iya Om! Nanggung,
dikit lagi!”, merengek Doni. Minta dikembalikan mainannya itu.
Pardi lalu
memencet tombol kecil di laptop. Matilah akhirnya laptop itu. “Kalau nggak
dimatiin paksa kok ya rewel lanjut ni anak!”, Pardi mengeraskan suara penuh
kekesalan. “Udah sana shalat isya dulu!”.
“Anak-anak kalian
kok seolah sudah ndak tahu perjuangan jaman”, suara Pak Mardi membuat tiga
anaknya, Kardi, Sardi dan Wardi, menoleh mencari darimana arah suara keluar.
“Ya begitu itu anak-anak yang sudah ndak kenal gimana itu susah. Tadi si Eni
ndak doyan makan. Padahal hidangan sangat istimewa begitu. Belum pernah tahu
dulu kita buka hanya dengan nasi jagung, thiwul, gaplek. Kalo sudah ndak
jamannya merasakan kesusahan ya paling ndak kalian kenalin! Biar jadi orang
yang syukur.”
“Ada apa to Pak?”,
Kardi bertanya.
“Ya itu
cucu-cucuku. Ada yang kerjaanya cuma main game. Ada yang dari kemarin
melototin TV terus. Ada yang kerjanya mencat-mencet HP tok. Apa ya begini ini
cara meneruskan perjuanganku? Lihat! Jariku sampe putus begini gara-gara
melawan pemberontak tengik itu”, Pak Mardi menghujat.
“Lah ya sante
sejenak ya nggak papa to Pak! Wong mereka sedang liburan. Masa terus-terusan spaneng?
Kasihan mereka masih kecil. Belum waktunya mengajari mereka perjuangan!”, Sardi
membantah pelan perkataan bapaknya.
“Loh kamu ini. Apa
kamu ndak tahu mereka begitu sejak kemarin, sejak kamu belum datang lho. Juga
tahun kemarin, juga kemarinnya lagi. Apa ya itu nyante? Hah?”, Pak Mardi tak
mau kalah debat dengan anaknya.
“Ya nggak begitu”,
belum sempat Sardi meneruskan. Ia terperanjat dengan suara sirine. Menengok ke
mobil polisi yang meraung-raung mendekati mereka diemperan rumah. Serombongan
polisi berseragam mendekati keluarga yang sedang bercengkaram di teras depan
rumah.
“Selamat
malam! Bisa bertemu dengan bapak Sardi?”,
seorang perwira polisi menyapa.
“Ya, saya sendiri.
Ada apa?”, Sardi menjawab dengan terkaget. Mukanya memerah, tubuhnya gemetaran.
Bibirnya kelu.
“Ini pak”, tanpa
banyak bicara perwira polisi itu menyodorkan sebuah amplop berisi surat.
“Nggak-nggak! Ini
salah pak!”, Sardi menggeleng, bersikeras menolak isi surat. Direbutnya surat
itu oleh Pak Mardi penuh penasaran.
“Ini apa Sardi?
Baca surat ini Wardi! ”, Pak Mardi menyuruh anaknya membaca karena ia buta
huruf.
“Bapak harus ikut
kami sekarang juga!”, perwira polisi menggelandang Sardi ke mobil. Sardi
menolak, meronta sekuat tenaga, tapi tetap tak berhasil. Ia disekap tiga orang
polisi, mana mungkin berhasil. Sementara istrinya menangis meronta penuh isak. Begitu
juga dengan Mbah Uti. Mereka tak tahu apa yang sedang menimpa suaminya itu.
“Begini pak! Ini
isi suratnya, bla bla bla bla”, Wardi menjelaskan isi surat itu.
“Tengik! Tengik!
Sangat tengik! Beginikah balasan kamu Sardi? Balasan perjuangan bapakmu dan
moyangmu? Kau sengsarakan anak-cucuku. Anak durhaka!”, Pak Mardi bersumpah
serapah. Tak bisa ia menahan amarahnya yang sudah menyentuh ubun-ubun. Ia
sangat kecewa. Merasa dihianati oleh darah daginya sendiri. Oleh dia yang
menjadi alasan Pak Mardi kemudian menjadi pincang karena serbuan bengis pemberontak.
Oleh dia yang sebenarnya adalah buah kebanggannya. Karena ia sudah menjadi
pegawai dinas negeri. Berpangkat tinggi. Sejak dulu ia sanjung dan berbangga.
Namun kini menampar tua renta yang telah bertaruh nyawa demi kedaulatan hidup
anak-cucunya.
“Yo sabar dulu to
Pak! Siapa tahu ini akal-akalan orang atas”, Wardi berusaha menenangkan
bapaknya.
“Tidak! Semua
sudah jelas“, Pak Mardi bersikeras. Semua hanya bisa diam menunduk, terisak dan
menangis dalam pilu.









0 komentar:
Posting Komentar