Kamis, 29 November 2012

Untuk Anak-Cucu


Lelaki tua renta itu berdiri, tersenyum, lalu terkekeh bahagia. Terlihat rona kerinduan mendalam yang kini terobati. Ya. Mereka yang berada di mobil biru adalah alasannya. “Byuh byuuuh!”, suara orang tua itu keluar juga akhirnya. “Simbaaaah!”, sesosok gadis kecil berkepang muncul dari balik pintu mobil. Langsung ia memeluk lelaki tua itu. Lalu diboponglah gadis kecil oleh lelaki tua.

“Uh, cucu mbah udah gede! Berat sekali sekarang sampai mbah ndak kuat nggendong”, ucapnya kemudian.  

Pak Mardi. Tua bangka itu namanya Pak Mardi. Sudah sangat tua usianya. Seluruh permukaan kulitnya keriput seperti jengger ayam. Pantas saja keriputnya terlihat dimana-mana karena umurnya sudah kelewat kepala tujuh. Lelaki yang menjadi saksi hidup kemerdekaan bangsa ini. Pak Mardi senang sekali kedatangan anak cucunya. Tergambar jelas disenyumnya sejak kedatangan mobil biru tadi. Mobil kelima yang datang kerumahnya. Ya. Di hari ke-27 Ramadhan lengkap sudah, kesemua lima darah dagingnya datang menjenguk. Mereka berkumpul untuk menunggu syawal-an nanti. Kali ini sangat istimewa, setelah dua tahun berpisah dengan semua anak cucunya. Tahun kemarin hanya dua anaknya yang datang menimang cucu-cucunya. Adapaun tahun ini adalah alasan yang paling memuaskan untuk ia tersenyum dan tertawa penuh bahagia.

“Ayo siapa yang mau ikut mbah memberi makan ayam?”, Pak Mardi mengajak cucu-cucunya.

“Ikuuuut!”, serempak suara cucu-cucunya menyahut.

Beranjaklah mereka ke kandang ayam dibelakang rumah. “Ayam mbah banyak kan? Tadi sudah disembelih empat buat buka bersama nanti. Dulu pas mbah kecil, jarang sekali lho makan ayam. Sekarang sudah jaman enak, tiap hari bisa makan ayam. Dulu ya kalo lebaran saja. Itu saja hanya bisa makan sedikit, karena harus dibagi-bagi sama tamu yang datang bodonan (berlebaran),” Pak Mardi membuka cerita.

“Wah berarti orang jaman dulu kurus-kurus dan kurang gizi ya mbah?”, potong Doni, cucu Pak Mardi yang sudah duduk dibangku SMP.

“Ya iya le. Wong makannya saja hanya sehari sekali. Dulu pas jaman perjuangan, kita sering dirampok DI. Rumah mbah juga pernah dibakar hangus tak tersisa. Ya tentu setelah disatroni harta benda dan pangannya.”

“DI itu apa sih mbah?”, Ika menyela cerita.

“DI itu pasukan pemberontak yang mau merebut kemerdekaan Indonesia. Mereka itu ya pasukan PKI,” jelas Pak Mardi. Sebenarnya DI adalah kepanjangan dari Daulah Islamiyah. Kelompok yang berusaha merubah ideologi bangsa ini menjadi negara islam, bukan PKI. Tapi bagi orang-orang tak berpendidikan seperti Pak Mardi tak ada bedanya antara DI dan PKI. Karena saat itu sangat kabur isu DI dan PKI. Jangankan mereka yang buta huruf, bodoh, mudah dibohongi. Yang berpendidikan saja sampai sekarang masih simpang siur tentang keabsahan cerita PKI dan DI semacam itu. Maka, semua tak ada bedanya. Yang jelas bagi mereka, keduanya sama-sama memberontak sumpah tanah air 17 Agustus ‘45. Menyengsarakan rakyat kecil dengan memberontak habis harta benda. Membunuh rakyat tak tahu menahu dosa. Massal pula.
“Beras, ubi-ubian, jagung dan persedian makanan di kondong (tempat penyimpanan cadangan makanan) habis dirampas. Habis itu mbah cuma bisa makan ares gedang (isi batang pohon pisang yang berwarna putih). Kalau makan enak ya nunggu setahun itu. Itupun ndak tentu le! Tergantung pangasih Gusti Pengeran”, Pak Mardi melanjutkan ceritanya.

“Kasihan banget mbah sih!” sahut gadis kecil yang rambutnya dikepang. Mendongak mukanya ke atas melihat wajah kakeknya penuh iba.

“Ya begitulah perjuangan cucu-cucuku! Perjuangan memang menyedihkan, tapi akan selalu indah saat merengkuhnya. Kita berkorban memepertahankan kedaulatan untuk masa depan anak-cucu. Untuk kalian. Makanya kalian belajar yang rajin! Jangan cuma main saja kerja kalian. Perjuangan mbah diteruskan ya? Hayo kalian pada hafal Pancasila ndak?”, Pak Mardi berseri melemparkan pertanyaan.

“Aku hafal, aku hafal!” cucu-cucu Pak Mardi menjawab semangat. Mereka terkesima dengan cerita hidup kakek mereka.

Hari sudah mulai petang. Pak Mardi sudah selesai memberi makan ayam dibelakang sejak tadi. Meskipun begitu dia terus khidmat bercerita kepada cucu-cucunya. Tetap dilokasi kandang ayam.
“Ah mbah, mereka masih kecil. Belum perlulah mengenal cerita pahit jaman perjuangan. Sudah beda jaman mbah”, Sardi memotong cerita.
“Eh kamu. Bisa-bisanya berkata seperti itu. Perjuangan ini belum berakhir”, Pak Mardi tak mau dibelokkan ajakan propaganda dalam ceritanya tadi. Terus menggerutu seperti induk ayam yang diusik keturunannya.
“Sudah, sudah! Sudah mau maghrib, ayo semua masuk kita kumpul dulu”, Sardi membelokkan, tak mau meneruskan debat.
“Mbah Uti, mau es degan!”, si kecil ompong mendekat neneknya yang sedang menyiapkan ta’jil-an buka puasa.

“Loh! Kok ndak puasa to le?”, nenek menggoda si kecil ompong. Nenek hanya berkelakar. Baru empat tahun umur si kecil ompong, mana mungkin ia kuat menahan lapar dan dahaga. Nenek pun memberikan segelas es kelapa muda kepada kecil ompong itu. Giranglah dia, diseruputnya isi gelas dan dipeganya erat sambil berjalan ke arah ibunya yang duduk tak jauh disamping nenek. Keluarga besar Pak Mardi berkumpul di ruang  tamu rumahnya. Karpet biru yang terbentang pun sesak, karena enam belas orang duduk diatasnya. Semua menunggu adzan maghrib berkumandang meskipun masih ada sekitar satu jam jeda itu berada.

“Anak cucuku!”, suara Pak Mardi mengheningkan suasana di tengah sela-sela obrolan mereka yang ada disana. “Kali ini simbah bahagia sekali! Semua bisa bergabung menikmati kebersamaan ini. Alhamdulillah. Akhirnya kita bisa menatap diri satu sama lain nggak seperti tahun kemarin. Masa kok di hari lebaran kita hanya bisa menikmati kebersamaan lewat layar canggih milik Sardi.”
Anak-anaknya bahagia melihat simbah tua mengakui kerinduannya. Semua larut dalam suasana keakraban. Akhirnya, adzan yang ditunggu pun datang melengking. Santap makanan segera menjadi acara selanjutnya bagi kumpulan keluarga ini. Tenggorokan yang kaku seharian segar kembali kemudian.

Rembulan samar-samar mengintip lewat kerutan garis awan. Suasana malam begitu hangat. Hangat dengan shalawat khas yang dibacakan selepas shalat witir. Shalawat yang biasa ditemani tabuhan kenthongan dan bedug. Tapi kehangatan yang ditawarkan keadaan tak bisa dinikmati Pak Mardi sesampainya di rumah. Belum sempat ia berganti pakaian. Masih bersarung, bersongkok dan berpakaian batik lengan panjang. Ia mendadak cemberut, geram.

“E e e eeee! Dari tadi kok belum berhenti? Ini racun macam apa lagi Pardi? Cucuku keracunan begini kok dibiarkan saja? Ayo singkirkan benda beracun itu dari cucu-cucuku! Tahun kemarin juga begini, sekarang kok masih belum berubah. Sudah ndak tarawih, masih saja main beginian sejak maghrib tadi”, Pak Mardi jengkel melihat cucunya.

“Sudah sudah! Jangan mainan terus! Berhenti! Kasihan mata kalian sampe merah begitu!”, Pardi merebut stick yang ada di tangan anak-anak kecil.

“Ah nanti Om! Nanggung, bentar lagi!”, Roni memaksa Omnya untuk mengembalikan.

“Iya Om! Nanggung, dikit lagi!”, merengek Doni. Minta dikembalikan mainannya itu.

Pardi lalu memencet tombol kecil di laptop. Matilah akhirnya laptop itu. “Kalau nggak dimatiin paksa kok ya rewel lanjut ni anak!”, Pardi mengeraskan suara penuh kekesalan. “Udah sana shalat isya dulu!”.

“Anak-anak kalian kok seolah sudah ndak tahu perjuangan jaman”, suara Pak Mardi membuat tiga anaknya, Kardi, Sardi dan Wardi, menoleh mencari darimana arah suara keluar. “Ya begitu itu anak-anak yang sudah ndak kenal gimana itu susah. Tadi si Eni ndak doyan makan. Padahal hidangan sangat istimewa begitu. Belum pernah tahu dulu kita buka hanya dengan nasi jagung, thiwul, gaplek. Kalo sudah ndak jamannya merasakan kesusahan ya paling ndak kalian kenalin! Biar jadi orang yang syukur.”

“Ada apa to Pak?”, Kardi bertanya.

“Ya itu cucu-cucuku. Ada yang kerjaanya cuma main game. Ada yang dari kemarin melototin TV terus. Ada yang kerjanya mencat-mencet HP tok. Apa ya begini ini cara meneruskan perjuanganku? Lihat! Jariku sampe putus begini gara-gara melawan pemberontak tengik itu”, Pak Mardi menghujat.

“Lah ya sante sejenak ya nggak papa to Pak! Wong mereka sedang liburan. Masa terus-terusan spaneng? Kasihan mereka masih kecil. Belum waktunya mengajari mereka perjuangan!”, Sardi membantah pelan perkataan bapaknya.

“Loh kamu ini. Apa kamu ndak tahu mereka begitu sejak kemarin, sejak kamu belum datang lho. Juga tahun kemarin, juga kemarinnya lagi. Apa ya itu nyante? Hah?”, Pak Mardi tak mau kalah debat dengan anaknya.

“Ya nggak begitu”, belum sempat Sardi meneruskan. Ia terperanjat dengan suara sirine. Menengok ke mobil polisi yang meraung-raung mendekati mereka diemperan rumah. Serombongan polisi berseragam mendekati keluarga yang sedang bercengkaram di teras depan rumah.

“Selamat malam!  Bisa bertemu dengan bapak Sardi?”, seorang perwira polisi menyapa.

“Ya, saya sendiri. Ada apa?”, Sardi menjawab dengan terkaget. Mukanya memerah, tubuhnya gemetaran. Bibirnya kelu.

“Ini pak”, tanpa banyak bicara perwira polisi itu menyodorkan sebuah amplop berisi surat. 

“Nggak-nggak! Ini salah pak!”, Sardi menggeleng, bersikeras menolak isi surat. Direbutnya surat itu oleh Pak Mardi penuh penasaran.
“Ini apa Sardi? Baca surat ini Wardi! ”, Pak Mardi menyuruh anaknya membaca karena ia buta huruf.
“Bapak harus ikut kami sekarang juga!”, perwira polisi menggelandang Sardi ke mobil. Sardi menolak, meronta sekuat tenaga, tapi tetap tak berhasil. Ia disekap tiga orang polisi, mana mungkin berhasil. Sementara istrinya menangis meronta penuh isak. Begitu juga dengan Mbah Uti. Mereka tak tahu apa yang sedang menimpa suaminya itu.
“Begini pak! Ini isi suratnya, bla bla bla bla”, Wardi menjelaskan isi surat itu.
“Tengik! Tengik! Sangat tengik! Beginikah balasan kamu Sardi? Balasan perjuangan bapakmu dan moyangmu? Kau sengsarakan anak-cucuku. Anak durhaka!”, Pak Mardi bersumpah serapah. Tak bisa ia menahan amarahnya yang sudah menyentuh ubun-ubun. Ia sangat kecewa. Merasa dihianati oleh darah daginya sendiri. Oleh dia yang menjadi alasan Pak Mardi kemudian menjadi pincang karena serbuan bengis pemberontak. Oleh dia yang sebenarnya adalah buah kebanggannya. Karena ia sudah menjadi pegawai dinas negeri. Berpangkat tinggi. Sejak dulu ia sanjung dan berbangga. Namun kini menampar tua renta yang telah bertaruh nyawa demi kedaulatan hidup anak-cucunya.
“Yo sabar dulu to Pak! Siapa tahu ini akal-akalan orang atas”, Wardi berusaha menenangkan bapaknya.
“Tidak! Semua sudah jelas“, Pak Mardi bersikeras. Semua hanya bisa diam menunduk, terisak dan menangis dalam pilu.

0 komentar:

Posting Komentar