Tampilkan postingan dengan label Tutur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tutur. Tampilkan semua postingan

Kamis, 29 November 2012

Apa Salahku?


“Sebongkah Batu Permata Tak Berdosa”
Aku adalah bongkahan kecil batu permata. Mengkilap indah merona. Memercikkan kilatan warna yang menyilaukan mata manusia. Kilatan yang dicari-cari setiap bola mata. Menyesakkan nafas mendengus terpesona. Menarik perhatian, mencari-cari asal arahnya. Menghiasi indahnya jenjang leher para wanita. Memeperdaya pandangan para pria. Selalu menjadi idaman para wanita. Tak ada yang tak menginginkanku, setiap dari mereka. Sungguh tak ada. Karena aku, batu permata.

Ya. Seharusnya. Tapi itu diriku saat dulu. Tak lagi sudah, ketika aku harus masuk kedalam peti istimewa. Terkunci rapat dan kuat. Namun karena suara tembakan itu, “dor”, aku pun menjadi barang rebutan yang menumpahkan darah. Memakan korban. Bahkan bukan hanya menjatuhkan korban yang sesungguhnya, sang perampok pun akhirnya mati menjadi korban keangkeranku. Karenaku. 
Dan ketika rintik hujan menjemput keremangan sinar senja. Ketika senja menjemput hening. Hening yang semakin memilukkan. Hening pilu yang meremang dalam petang. Senja yang menemaniku untuk menjemputnya. Sebuah petang yang menjadi pilu yang hadir bagi sesosok wanita cantik jelita. Alisnya begitu indah. Bulu matanya lentik bak daun kelapa di siang hari, melambai-lambi menawarkan kesejukkan. Kakinya menjenjang dari betisnya. Dagunya yang menjuntai manja. Apalagi ditambah dengan hiasan batu permata diujung lehernya. Hadirnya aku, batu permata. Setiap kali manusia melihat aku dan dirinya, semua pasti akan berkata; “Ah, betapa mempesonanya dia! Ah, andai dia menjadi bidadari malamku! Ah, sungguh dia paling jelita! Ah, batu permata itu semanis senyumnya, begitu ayu mempesona!”.

Namun karena sekali lagi, karena aku menjadi bagian takdirnya. Aku pun kembali menjadi ajal penjemput empunya nyawa. Dia sekarang tak lebih dari sekedar seonggok mayat. Mayat yang terdampar dipinggir jalan. Disebuah jalan turunan yang menikung, tajam. Sedangkan aku, tergeletak ditengah jalan, disampingnya. Tak jauh darinya. Sekali lagi aku tak lagi berharga seperti sebelumnya. Ketika sebelum masuk kedalam kotak istimewa.

“Pasti penyebabnya itu dia, sebuah batu permata. Dia sumber malapetaka. Ya. Ya. Ya”, semua menuduhku seperti itu.
Bahkan polisi sekalipun.

“Lapor! Sepertinya itu dia  barang buktinya komandan. Sebuah bongkahan batu permata”, bawahan melapor.

“Cepat kau masukkan mobil untuk kita jadikan barang bukti”, pinta komandan.

”Waduhhh! Mana berani saya komandan”.

Kenapa? Ini perintah, laksanakan!”

“Aduhhh! Persoalannya begini komandan, bla bla bla”.

“Benarkah begini?”

“Iya komandan! Silahkan tanya saja kepada warga sekitar. Sungguh komandan”.

“Baiklah. Sudah biarkan saja. Jangan kau sentuh! Biarkan! Yang penting semua sudah jelas. Dia penyebabnya. Tak perlu dibahas lebih lagi. Kasus ini kita tutup saja. Sudah cukup”.

Mereka pun membiarkanku terpisah. Hal ini yang memisahkan kisahku dan si mayat cantik jelita. Si cantik yang kukira menjadi akhir kisah menyedihkanku. Karena dia menerimaku. Namun nasib yang akhirnya memisahkan kami, meskipun hatinya menginginkanku dan akupun nyaman didekapnya. Tapi ya begitulah. Adapun kini, mereka membiarkanku tergeletak di tengah jalan. Tak ada yang menyentuhku. Tak berani, samasekali. Semua menganggapku batu pembawa sial. Bahkan ketika pak polisi olah TKP, mereka juga menuduhku, akulah penyebab semuanya.

Sejak aku tegeletak ditengah jalan ini, banyak sekali kecelakaan yang terjadi. Mulai dari bus menabrak sepeda motor, tronton yang terguling, anak kecil yang mati ringsek dilindas mobil dan lain sebagainya. Sudah tak terhitung lagi. Banyak sekali.

“Sepertinya lebih baik kita blokir saja jalan ini Pak! Kami sudah capek mengurusi korban-korbannya. Terlebih, nyawa kita semua juga terancam. Bukan begitu saudara-saudara?”

“Betuuul! Mari kita tutup saja jalannya!”

“Setujuuu!”, seru semua warga.

“Baiklah, untuk kebaikkan kita bersama. Kita tutup saja jalan itu”.

Akhirnya warga berbondong-bondong memblokir jalan. Namun karena jalan ini adalah jalan satu-satunya akses menuju kota, sehari setelahnya dibuka kembali. Antrian mobil jurusan luar dan dalam kota sudah mencapai kiloan meter. Karena itu jalan itu dibuka kembali. Dan lagi-lagi, kecelakaan terjadi lagi dan lagi.

“Bagaimana kalau kita carikan orang pintar?”

“Ya. Sepertinya ide tepat”.

Namun lagi-lagi tak berhasil. Tetap saja jatuh korban. Bahkan sudah sampai semua dukun dan orang pintar habis. Semua tak ada hasil.

“Kita adakan doa bersama saja gimana?  Dukun nggak mempan, syirik lagi. Siapa tahu penunggunya itu makhluk baik. Jadi harus diusir dengan cara baik-baik”.

“Ya, mari kita doakan bersama-sama saja!”

Ah lagi-lagi. Tak ada hasil. Masih saja berjatuhan korban. Sampai pada akhirnya, seorang melemparku jauh ke jurang disebelah kanan jalan. Tapi itu juga memakan korban. Kabar yang kudengar dia mati tertabrak sedan saat melemparku. Malah sampai mayatnya jatuh ke jurang.

Sekarang aku berada ditengah jurang. Meskipun aku berada dijurang keistimewaanku yang dulu hilang kembali lagi. Kembali aku mengkilap ketika malam gelap. Memancarkan keelokkan. Namun bahagiaku tak berlangsung lama. Seseorang memungutku. Entah bagaimana dia bisa tahu keberadaanku. Barangkali karena kilapku. Dan aku tak tahu lagi apa yang akan terjadi. Aku berharap tak ada yang mengkambing hitamkanku lagi. Karena aku hanya sebongkah batu permata. Apa salahku? Jangan salahkan aku lagi!

Kairo, 22 Agustus 2012

Terlalu Biasa


Mataku masih merah, karena berita duka lara semalam. Hatiku masih terluka, bekas sayatan takdir yang datang menjelang malam. Air mataku belum mengering sejak pertama menggenang. Aku begitu luka, aku begitu nelangsa. Hatiku begitu sesak, hatiku begitu mengisak. Memang takdir yang terjadi semalam, tetaplah takdir yang harus aku terima dengan lapang. Harus aku terima dengan tegaknya kepala. Harus aku terima dengan senyum yang menganga. Tapi entah kenapa, aku masih tak mau menerima semuanya. Masih begitu nelangsa. Sebenarnya alasanku merana tidaklah begitu istimewa. Tak begitu seberapa. Tak begitu berasa. Tak begitu seharusnya aku menangis meronta penuh lara. Karena kurasa saat itu terlalu biasa.

Kemarin aku masih baik-baik saja, bahkan begitu bahagia. Seperti biasa, aku masih makan sahur dan berbuka puasa. Masih menikmati hidup bersama keluarga tercinta. Walaupun dengan jumlah keluarga yang tersisa. Ya. Aku sudah lama menjanda. Sejak dua tahun aku melahirkan anak kedua. Sejak suamiku terakhir kali pamit berangkat kerja. Barangkali kisah hari itu masih terngiang. Memilukan, menyedihkan dan menyakitkan. Tapi toh sekarang aku sudah bisa menerima kenyataan, bahwa aku sudah menjanda. Bahwa suamiku kini sudah tiada. Bahwa anak-anakku sudah tak ber-bapak seorang dia. Alhamdulillah, Yang Maha Kuasa sudah berkenan menabahkan gontai langkah hidupku. Meskipun terpaksa aku menjadi babu dan memeras keringat sekuat tenaga. Meskipun jari lentikku tak lagi terasa. Meskipun paras cantikku tak lagi ayu mempesona. Sejak itu, aku merasa semakin cepat tua saja. Teman sebayaku masih terlihat muda, tak seperti aku. Terlihat tua. Tapi sekali lagi alhamdulillah. Aku masih bisa merasa semua pengorbananku berharga. Aku ikhlas demi meraih ridho-Nya. Meskipun aku kerap kali mengharapkan semuanya diganjar Yang Maha Sempurna. Ya semoga sorga. Tapi paling tidak itulah ikhlas menurut rata-rata manusia. Semoga Tuhan mau memaklumi karena Dia memang Maha Mengetahui, termasuk yang didalam hati semacam ini.
Tidak terasa, kisah aku sebagai tulang punggung keluarga sudah berlangsung begitu lama. Sudah lima belas tahun. Anakku yang pertama saja sudah merantau mencari rizki penghidupan. Anakku yang kedua sebentar lagi lulus SMA. Alah mak! Bukan main aku bahagianya. Alah mak! Bukan main aku bangganya. Alah mak! Bukan kepalang aku mengenang perjuangan semuanya. Alah mak! Sampai beribu-ribu kali hari itu aku alah mak. Aku merasa sebagai ibu paling sukses sedunia. Aku merasa sebagai pendidik anak paling berhasil menuntun anak bangsa. Aku merasa sebagai pelindung sempurna bagi gersangnya hidup dunia. Aku merasa sebagai yang paling didunia. Begitulah pokoknya.

Kemarin-kemarin aku mengirim kabar lewat tetangga. Aku meminta menghubungkan kabar kepada anak pertama di Jakarta. “Kami sehat nak! Cepatlah pulang mudik dan mari kita menikmati lebaran bersama!”, kurang lebih begitu tetanggaku mengabarkannya. Kata tetangga, “Iya mak! Aku akan pulang seminggu sebelum lebaran dirayakan oleh kita. Doakan mak! Semoga anakmu tak berhalangan dan bercepat segera menyelesaikan tugas kerja”. Begitu kiranya dia membalas kabar kita sekeluarga.

Tapi, “Aku baru bisa nyampe rumah sore menjelang buka puasa terakhir mak! Tugasku masih menumpuk mak! Maafkan mak!”, anakku pertama mengiba meminta kelapangan dada. Beberapa hari kemarin tetangga menyampaikan kabar darinya. Sebenarnya hari kemarin adalah terakhir kami berpuasa. Tapi karena pemerintah menyatakan belum ada tanda untuk mengakhiri puasa, lebaran pun belum sepenuhnya paripurna. Kami mendengarkan lewat radio. Kami mengharapkan anugerah, buka perbedaan semacam itu. Tapi ternyata tidak. Tuhan berkata lain. Ada alasan tersendiri untuk pemerintah berkata belum, sementara kami berkata sudah. Tetap tidak dengan kami, tetangga dan daerah kami menyatakan sebelum hari kemarin adalah hari terakhir berpuasa. Ya. Biarkan pemerintah mau bilang apa, toh kami sudah menyatakan telah usai puasa. Dengan jalan ulama kami yang tak kalah bijaksana dan berkuasa.
Tapi itu dulu-dulu. Karena kami masih bisa berlebaran bersama. Kali ini adalah aku mengharap untuk berlebaran bersama kedua anakku. Karena dua tahun kemarin anakku itu berangkat merantau ke Jakarta. Dan tahun ini adalah harapanku untuk pertama berlebaran bersama lagi. Setelah tiga tahun terakhir ini tidak. Maka aku tak serta merta setuju menganggukkan kepala dengan keputusan khalayak di daerah kami. Anakku di Jakarta, dia mengatakan masih ada puasa besok. Masih ada. Karena dia mengikuti apa kata daerah sana. Kami tidak, tetap tidak. Bagaimanapun tetap tidak. Kami sudah menentukan masa terakhir kami berpuasa. Meskipun aku ragu. Haruskah kami memutuskan untuk tetap berpuasa? Haruskah menunggu hasil dahaga dengan menunda untuk bisa bahagia bersama? “Ah tapi tidak. Aku takut dianggap keluar dari golongan yang ada mengelilingi kami. Terlaku tak enak”, hatiku menjawab kergauan itu. Tapi kadang aku menanyakan ulang keputusanku kembali.

Akhirnya aku hanya bisa memimpikan; ada keajaiban merubah penetapan perbedaan waktu ini. Atau, Tuhan menyamakan dua hari yang berbeda untuk bisa kami menikmati hari raya bersama. Tapi ternyata tidak. Kemarin selalu kemarin, sekarang tetaplah sekarang dan besok adalah besok. Terpaksa kami lagi-lagi tak bisa berlebaran bersama. Memilukan. Sangat! Tapi tak apalah. Meskipun berat untuk aku menyatakan tak apa. Paling tidak besok kami menikmati lebaran bersama. Meskipun dihari yang aneh. Hari kedua untuk kami berdua dan hari pertama untuk dirinya. “Tapi kan sama-sama lebaran. Tak apalah”, hatiku menyangkal. Mencoba mengibur, tapi memekik, tetap tak kuasa.
Kemarin sore katanya dia sampai di terminal, maka aku suruh anak keduaku menjemputnya disana. Siapa tahu dia butuh bantuan untuk memanggul bekal dan buah tangannya. Maka siang itu kusuruh anak keduaku untuk menjemputnya. Sepertinya tengah siang bolong mereka sudah bertemu disana. Di terminal yang empat jam dengan bus kami menempuhnya. Karena sore kian merajut gelap. Kusiapkan menu buka puasanya. Ya kami berpura-pura bodoh sajalah, untuk seolah terakhir berbuka puasa. Aku menunggu menanti kedatangan mereka, ku nyalakan radio. Ingin ku menyimak berita pengumuman lebaran versi pemerintah. Ya benar. Ternyata memang benar, kata mereka lebaran baru sekarang. Baru sekarang. Bukan kemarin. 

Lalu aku beranjak mau mematikan radio. Soalnya maghrib sudah berkumandang, sementara anakku belum berpulang. Resa aku. Aku memencet tombol off di radio. Sebelum benar benar-benar radio mati, kudengar ada berita kecelakaan. Ah tetap aku tak tertarik. Terlalu biasa bagiku. Apalagi masa-masa mudik seperti sekarang.
Sekarang aku masih meratap, sejak tadi malam. Aku tak bisa berkata-kata, sementara mataku terus berkaca-kaca. Disamping dua batu nisan yang masih begitu baru. Baru beberapa menit yang lalu. Aku masih begitu resah dan sangat bersalah. Karena sebuah berita selepas pengumuman lebaran dari pemerintah, sore kemarin. Berita yang ku anggap “terlalu biasa bagiku”. Bahagiaku kini kian mengering.


Kami mengharap waktu yang sama, untuk bisa bahagia bersama.
Kairo, 17 Agustus 2012. 

Anu



“Saudara kami nyatakan bersalah! Saudara dijatuhi hukuman penjara selama sepuluh tahun”. Suara hakim itu mengagetkanku. Aku tak berdaya, tak bisa menerima kenyataan ini. Tanganku mengepal, dadaku mendidih penuh emosi. Bibirku bergetar menahan getir. Mataku merah termakan amarah membara.“Bangsat!”, pekikku. Aku merasa ditipu habis-habisan oleh kenyataan. “Keparat kau Rusdi!”, aku memaki. Terkadang aku merasa semua ini memang karena kebodohanku. Kenapa dulu aku begitu lugu, hingga mudah sekali aku ditipu.

Dulu aku begitu menyanjung Rusdi. Seorang sarjana pertama yang ada dikampungku itu. Dia terkenal pandai, cerdas dan penuh semangat juang membara. Hingga akupun tak pernah menaruh curiga. Pantas sajalah. Dia tak pernah menampakkan sedikitpun celah kekurangannya. Hingga aku pun rela mengabdikan diriku. Kujadikan dia panutanku. Bahkan kurelakan semua waktu, tenaga dan uangku. “Kita ini tak ubahnya seorang pilihan. Kita harus menyuarakan perubahan. Karena kita dari seribu yang dipilih untuk menegakkan kebenaran”, jelasnya kepadaku suatu saat. Aku pun terbakar penuh semangat. Walaupun hanya bisa bilang, “oooo” sambil ndomblong, melongo.

Dia adalah kader partai anu, partai kecil yang tak banyak pengikut. Namun setelah bebapa tahun belakangan partai itu berubah jadi besar. Banyak simpatisan. Selalu ramai bila mengadakan brifing dan rapat partai. Barangkali karena kehadiran pengurus partai anu itu yang segenerasi dengan Rusdi. Mereka selalu tampil menarik. Selalu terlihat nyentrik. Banyak gagasan menggelitik penuh intrik, terkemas begitu apik. Selain itu, pergerakan mereka selalu memihak kepada rakyat. Mereka sangat cekatan melihat apa yang menjadi kesulitan rakyat. Tidak hanya itu, nasionalisme ramai mereka dengungkan. Barangkali itu yang menjadikan mereka cepat berkembang besar, banyak pengikut.

Maka tak heran jika aku merasa sangat beruntung menjadi tangan kanan Rusdi, salah satu pembesar partai anu itu. “Mi, tolong anu ya! Terus anu ya! Kemudian anu ya! Jangan lupa anu ya! Kalau bisa anu ya!” suruhnya kepadaku. “Okelah kalau begitu! Siap laksanakan!“, aku mengiyakan atasanku. Aku disuruhnya ini, itu. Mondar-mandir kesini, kesitu. Mengurus persiapan rapatnya dengan kader partai anu. Berjalan dan makan bersama dimeja satu. Begitu dekat kami, hingga tak ada rahasia antara dia dan aku. Dia begitu baik, tak pernah dia memancing kesalku. Kalau aku sudah kewalahan, dia turun membantuku. Kalau aku tak paham permintaanya, dengan sabar dia mencontohkan kepadaku. Dia sudah seperti teman baik sekaligus atasanku. Tidak ada alasan untuk aku menaruh curigaku.

“Eh Mi! Besok partaiku mau mengadakan sarasehan di Semarang. Kau bisa kan mendampingiku? Aku butuh tenagamu”, dia meminta.

“Bisa, bisa. Saya siap membantu”, jawabku.

Oya, aku butuh seorang lagi untuk membantuku. Kira-kira siapa yang bisa dan mau membantu? Ehmmm, bagaimana kalau kau ajak adikmu Mi? Aku butuh cewek untuk membantu disana nanti”.

“Ehmmm, emang kapan kita ke Semarang? Berapa hari kita disana? Kan dia harus masuk sekolah”.

“Dua hari tok sih. Sabtu-Minggu depan. Ya selepas Jum’atan kita cabut. Ya tolong suruh dia ijin. Barang sehari saja, untuk kepentingan bangsa juga”.

“Oh, ya nanti aku ijinkan dia hari Sabtu. Biar semua lancar. Gampang”.
Selepas Jum’atan kami berangkat ke Semarang. Sekeluarnya dari bandara kami langsung mencari taksi menuju hotel anu. Hotel berbintang yang sangat memukauku. Di hotel ini akan diadakan rapat pertemuan partai anu. Semua serba bertuliskan partai anu. Mulai dari spanduk, pakaian hingga pernak pernik yang menempel ditubuh yang hadir disitu. Kami akan menginap di hotel ini. Sungguh indah, sangat mewah. Belum pernah aku menginap ditempat se-elit begini ini. Sekali lagi aku beruntung bisa jadi orang kepercayaan Rusdi. Teman semasa kecilku.
Kami bertiga tinggal sekamar. Biar mudah bersiap-siap kata Rusdi. Aku menurut saja. Pagi-pagi kami sudah rapi. Aku bertindak bak ajudan sungguhan. Sementara adikku berdandan seperti sekretarisnya. Dia membawa buku catatan dan map yang diamanatkan. Sedangkan Rusdi berdandan begitu rapi dan wangi. Sampai diruang rapat Rusdi mengajakku masuk. Tapi aku memilih menunggu diluar. Pusing aku dibuatnya apa yang mereka obrolkan. Tak sampai rasanya ilmuku. Pernah aku nimbrung rapat partai anu suatu saat. Tapi tak pernah aku paham apa yang mereka obrolkan, pokoknya tak sampai ilmuku. Yang kutahu partai anu memang bermisi jelas, selalu mementingkan rakyat dan nasionalis. Maka dari itu aku mending menunggu diluar, menikmati kopi dan batangan rokok. Dengan kenalan-kenalan yang banyak berposisi seperti aku.

Sore, setelah rapat selesai, aku masih asyik mengobrol dengan kenalan-kenalanku. Sementara Rusdi balik duluan kekamar dengan adikku. Hingga sore aku malah berjalan-jalan disekitar hotel dengan mereka. Kami asyik dengan berbagi pengalaman. Asyik sekali rasanya. Betah aku ditempat semacam ini dengan orang-orang semacam ini. Akhirnya, karena hari mulai malam, aku balik ke kamar. Rusdi dan adikku tertidur pulas. Sepertinya rapat itu begitu melelahkan. Aku bangunkan mereka. Setelah berdandan rapi dan mandi, kami meluncur keruang makan.

Paginya kami jalan-jalan di Semarang. Dan siangnya kami lanjut pulang ke Serang. Tapi ada yang aneh dari adikku. Dia tampak murung. Lebih pendiam dari biasanya. Mukanya lusuh seperti baju tak disetrika. “Ah, mungkin karena terlalu capek”, pikirku.

“Bangsat!” aku memaki sejadi-jadinya. Tak percaya aku. Sementara adikku menangis setelah ia menjelaskannya kepadaku. Bapak ibuku belum diberitahunya. Sebenarnya aku sudah pernah diceritakan masalah ini oleh adikku itu. Tapu tak percaya. Tapi, setelah beberapa bulan berlalu aku percaya. Perutnya semakin membuncit, meskipun masih kecil. Itu yang kemudian membuatku percaya sekaligus tak percaya. Aku bingung, aku bingun, aku bingung.

Kutemui Rusdi. Kukatakan baik-baik padanya. “Hahaha, mana mungkin aku begitu Mi! Kau tahu aku selama ini”.

“Tapi begitu terus pengakuan adikku. Mana mungkin dia berani berbohong kepadaku. Apalagi hal semacam ini” aku menolak pengakuannya.

“Miii ,Miii! Sudahlah kalau kau tak percaya. Tapi lebih baik kita ketemu besok di tempat yang nyaman buat menjelaskan semua ini”.

Setelah berganti hari, malam-malam aku dan adikku bernangkat menuju tempat yang kami janjikan. Disana Rusdi belum datang. Ada orang menjamu kami. Disuruhnya kami menunggu. Kami menyantap hidangan yang disediakan. Setelah itu, behhhh. Mataku berkunang-kunang. Kepalaku berat. Kudapati tubuhku sudah telanjang bulat. Adikkku menutupi tubuhnya dengan selimut. Dia menangis. Guguplah aku. Tak tahu apa yang terjadi. Berdiri banyak warga didepan kami berdua, terlihat marah, memaki-makiku. Aku dihajarnya oleh mereka. Tubuhku memar. 

“Bangsat! Keparat! Terlaknaaaat!”, aku memaki dan memaki, lalu memaki.
Malam hari aku menyelinap rumah Rusdi. Ada penjaga disana sini, dijaga rumahnya. Akhirnya karena tekad bulat berhasil juga kumenyelinap. Setelah kutemui dirinya sedang pulas dalam tidur, tak mau membuang waktu kuhunuskan pisau tajam kepadanya.  “Kau anu, Bangsaaat!”

Kairo, 21 Agustus 2012.



Untuk Anak-Cucu


Lelaki tua renta itu berdiri, tersenyum, lalu terkekeh bahagia. Terlihat rona kerinduan mendalam yang kini terobati. Ya. Mereka yang berada di mobil biru adalah alasannya. “Byuh byuuuh!”, suara orang tua itu keluar juga akhirnya. “Simbaaaah!”, sesosok gadis kecil berkepang muncul dari balik pintu mobil. Langsung ia memeluk lelaki tua itu. Lalu diboponglah gadis kecil oleh lelaki tua.

“Uh, cucu mbah udah gede! Berat sekali sekarang sampai mbah ndak kuat nggendong”, ucapnya kemudian.  

Pak Mardi. Tua bangka itu namanya Pak Mardi. Sudah sangat tua usianya. Seluruh permukaan kulitnya keriput seperti jengger ayam. Pantas saja keriputnya terlihat dimana-mana karena umurnya sudah kelewat kepala tujuh. Lelaki yang menjadi saksi hidup kemerdekaan bangsa ini. Pak Mardi senang sekali kedatangan anak cucunya. Tergambar jelas disenyumnya sejak kedatangan mobil biru tadi. Mobil kelima yang datang kerumahnya. Ya. Di hari ke-27 Ramadhan lengkap sudah, kesemua lima darah dagingnya datang menjenguk. Mereka berkumpul untuk menunggu syawal-an nanti. Kali ini sangat istimewa, setelah dua tahun berpisah dengan semua anak cucunya. Tahun kemarin hanya dua anaknya yang datang menimang cucu-cucunya. Adapaun tahun ini adalah alasan yang paling memuaskan untuk ia tersenyum dan tertawa penuh bahagia.

“Ayo siapa yang mau ikut mbah memberi makan ayam?”, Pak Mardi mengajak cucu-cucunya.

“Ikuuuut!”, serempak suara cucu-cucunya menyahut.

Beranjaklah mereka ke kandang ayam dibelakang rumah. “Ayam mbah banyak kan? Tadi sudah disembelih empat buat buka bersama nanti. Dulu pas mbah kecil, jarang sekali lho makan ayam. Sekarang sudah jaman enak, tiap hari bisa makan ayam. Dulu ya kalo lebaran saja. Itu saja hanya bisa makan sedikit, karena harus dibagi-bagi sama tamu yang datang bodonan (berlebaran),” Pak Mardi membuka cerita.

“Wah berarti orang jaman dulu kurus-kurus dan kurang gizi ya mbah?”, potong Doni, cucu Pak Mardi yang sudah duduk dibangku SMP.

“Ya iya le. Wong makannya saja hanya sehari sekali. Dulu pas jaman perjuangan, kita sering dirampok DI. Rumah mbah juga pernah dibakar hangus tak tersisa. Ya tentu setelah disatroni harta benda dan pangannya.”

“DI itu apa sih mbah?”, Ika menyela cerita.

“DI itu pasukan pemberontak yang mau merebut kemerdekaan Indonesia. Mereka itu ya pasukan PKI,” jelas Pak Mardi. Sebenarnya DI adalah kepanjangan dari Daulah Islamiyah. Kelompok yang berusaha merubah ideologi bangsa ini menjadi negara islam, bukan PKI. Tapi bagi orang-orang tak berpendidikan seperti Pak Mardi tak ada bedanya antara DI dan PKI. Karena saat itu sangat kabur isu DI dan PKI. Jangankan mereka yang buta huruf, bodoh, mudah dibohongi. Yang berpendidikan saja sampai sekarang masih simpang siur tentang keabsahan cerita PKI dan DI semacam itu. Maka, semua tak ada bedanya. Yang jelas bagi mereka, keduanya sama-sama memberontak sumpah tanah air 17 Agustus ‘45. Menyengsarakan rakyat kecil dengan memberontak habis harta benda. Membunuh rakyat tak tahu menahu dosa. Massal pula.
“Beras, ubi-ubian, jagung dan persedian makanan di kondong (tempat penyimpanan cadangan makanan) habis dirampas. Habis itu mbah cuma bisa makan ares gedang (isi batang pohon pisang yang berwarna putih). Kalau makan enak ya nunggu setahun itu. Itupun ndak tentu le! Tergantung pangasih Gusti Pengeran”, Pak Mardi melanjutkan ceritanya.

“Kasihan banget mbah sih!” sahut gadis kecil yang rambutnya dikepang. Mendongak mukanya ke atas melihat wajah kakeknya penuh iba.

“Ya begitulah perjuangan cucu-cucuku! Perjuangan memang menyedihkan, tapi akan selalu indah saat merengkuhnya. Kita berkorban memepertahankan kedaulatan untuk masa depan anak-cucu. Untuk kalian. Makanya kalian belajar yang rajin! Jangan cuma main saja kerja kalian. Perjuangan mbah diteruskan ya? Hayo kalian pada hafal Pancasila ndak?”, Pak Mardi berseri melemparkan pertanyaan.

“Aku hafal, aku hafal!” cucu-cucu Pak Mardi menjawab semangat. Mereka terkesima dengan cerita hidup kakek mereka.

Hari sudah mulai petang. Pak Mardi sudah selesai memberi makan ayam dibelakang sejak tadi. Meskipun begitu dia terus khidmat bercerita kepada cucu-cucunya. Tetap dilokasi kandang ayam.
“Ah mbah, mereka masih kecil. Belum perlulah mengenal cerita pahit jaman perjuangan. Sudah beda jaman mbah”, Sardi memotong cerita.
“Eh kamu. Bisa-bisanya berkata seperti itu. Perjuangan ini belum berakhir”, Pak Mardi tak mau dibelokkan ajakan propaganda dalam ceritanya tadi. Terus menggerutu seperti induk ayam yang diusik keturunannya.
“Sudah, sudah! Sudah mau maghrib, ayo semua masuk kita kumpul dulu”, Sardi membelokkan, tak mau meneruskan debat.
“Mbah Uti, mau es degan!”, si kecil ompong mendekat neneknya yang sedang menyiapkan ta’jil-an buka puasa.

“Loh! Kok ndak puasa to le?”, nenek menggoda si kecil ompong. Nenek hanya berkelakar. Baru empat tahun umur si kecil ompong, mana mungkin ia kuat menahan lapar dan dahaga. Nenek pun memberikan segelas es kelapa muda kepada kecil ompong itu. Giranglah dia, diseruputnya isi gelas dan dipeganya erat sambil berjalan ke arah ibunya yang duduk tak jauh disamping nenek. Keluarga besar Pak Mardi berkumpul di ruang  tamu rumahnya. Karpet biru yang terbentang pun sesak, karena enam belas orang duduk diatasnya. Semua menunggu adzan maghrib berkumandang meskipun masih ada sekitar satu jam jeda itu berada.

“Anak cucuku!”, suara Pak Mardi mengheningkan suasana di tengah sela-sela obrolan mereka yang ada disana. “Kali ini simbah bahagia sekali! Semua bisa bergabung menikmati kebersamaan ini. Alhamdulillah. Akhirnya kita bisa menatap diri satu sama lain nggak seperti tahun kemarin. Masa kok di hari lebaran kita hanya bisa menikmati kebersamaan lewat layar canggih milik Sardi.”
Anak-anaknya bahagia melihat simbah tua mengakui kerinduannya. Semua larut dalam suasana keakraban. Akhirnya, adzan yang ditunggu pun datang melengking. Santap makanan segera menjadi acara selanjutnya bagi kumpulan keluarga ini. Tenggorokan yang kaku seharian segar kembali kemudian.

Rembulan samar-samar mengintip lewat kerutan garis awan. Suasana malam begitu hangat. Hangat dengan shalawat khas yang dibacakan selepas shalat witir. Shalawat yang biasa ditemani tabuhan kenthongan dan bedug. Tapi kehangatan yang ditawarkan keadaan tak bisa dinikmati Pak Mardi sesampainya di rumah. Belum sempat ia berganti pakaian. Masih bersarung, bersongkok dan berpakaian batik lengan panjang. Ia mendadak cemberut, geram.

“E e e eeee! Dari tadi kok belum berhenti? Ini racun macam apa lagi Pardi? Cucuku keracunan begini kok dibiarkan saja? Ayo singkirkan benda beracun itu dari cucu-cucuku! Tahun kemarin juga begini, sekarang kok masih belum berubah. Sudah ndak tarawih, masih saja main beginian sejak maghrib tadi”, Pak Mardi jengkel melihat cucunya.

“Sudah sudah! Jangan mainan terus! Berhenti! Kasihan mata kalian sampe merah begitu!”, Pardi merebut stick yang ada di tangan anak-anak kecil.

“Ah nanti Om! Nanggung, bentar lagi!”, Roni memaksa Omnya untuk mengembalikan.

“Iya Om! Nanggung, dikit lagi!”, merengek Doni. Minta dikembalikan mainannya itu.

Pardi lalu memencet tombol kecil di laptop. Matilah akhirnya laptop itu. “Kalau nggak dimatiin paksa kok ya rewel lanjut ni anak!”, Pardi mengeraskan suara penuh kekesalan. “Udah sana shalat isya dulu!”.

“Anak-anak kalian kok seolah sudah ndak tahu perjuangan jaman”, suara Pak Mardi membuat tiga anaknya, Kardi, Sardi dan Wardi, menoleh mencari darimana arah suara keluar. “Ya begitu itu anak-anak yang sudah ndak kenal gimana itu susah. Tadi si Eni ndak doyan makan. Padahal hidangan sangat istimewa begitu. Belum pernah tahu dulu kita buka hanya dengan nasi jagung, thiwul, gaplek. Kalo sudah ndak jamannya merasakan kesusahan ya paling ndak kalian kenalin! Biar jadi orang yang syukur.”

“Ada apa to Pak?”, Kardi bertanya.

“Ya itu cucu-cucuku. Ada yang kerjaanya cuma main game. Ada yang dari kemarin melototin TV terus. Ada yang kerjanya mencat-mencet HP tok. Apa ya begini ini cara meneruskan perjuanganku? Lihat! Jariku sampe putus begini gara-gara melawan pemberontak tengik itu”, Pak Mardi menghujat.

“Lah ya sante sejenak ya nggak papa to Pak! Wong mereka sedang liburan. Masa terus-terusan spaneng? Kasihan mereka masih kecil. Belum waktunya mengajari mereka perjuangan!”, Sardi membantah pelan perkataan bapaknya.

“Loh kamu ini. Apa kamu ndak tahu mereka begitu sejak kemarin, sejak kamu belum datang lho. Juga tahun kemarin, juga kemarinnya lagi. Apa ya itu nyante? Hah?”, Pak Mardi tak mau kalah debat dengan anaknya.

“Ya nggak begitu”, belum sempat Sardi meneruskan. Ia terperanjat dengan suara sirine. Menengok ke mobil polisi yang meraung-raung mendekati mereka diemperan rumah. Serombongan polisi berseragam mendekati keluarga yang sedang bercengkaram di teras depan rumah.

“Selamat malam!  Bisa bertemu dengan bapak Sardi?”, seorang perwira polisi menyapa.

“Ya, saya sendiri. Ada apa?”, Sardi menjawab dengan terkaget. Mukanya memerah, tubuhnya gemetaran. Bibirnya kelu.

“Ini pak”, tanpa banyak bicara perwira polisi itu menyodorkan sebuah amplop berisi surat. 

“Nggak-nggak! Ini salah pak!”, Sardi menggeleng, bersikeras menolak isi surat. Direbutnya surat itu oleh Pak Mardi penuh penasaran.
“Ini apa Sardi? Baca surat ini Wardi! ”, Pak Mardi menyuruh anaknya membaca karena ia buta huruf.
“Bapak harus ikut kami sekarang juga!”, perwira polisi menggelandang Sardi ke mobil. Sardi menolak, meronta sekuat tenaga, tapi tetap tak berhasil. Ia disekap tiga orang polisi, mana mungkin berhasil. Sementara istrinya menangis meronta penuh isak. Begitu juga dengan Mbah Uti. Mereka tak tahu apa yang sedang menimpa suaminya itu.
“Begini pak! Ini isi suratnya, bla bla bla bla”, Wardi menjelaskan isi surat itu.
“Tengik! Tengik! Sangat tengik! Beginikah balasan kamu Sardi? Balasan perjuangan bapakmu dan moyangmu? Kau sengsarakan anak-cucuku. Anak durhaka!”, Pak Mardi bersumpah serapah. Tak bisa ia menahan amarahnya yang sudah menyentuh ubun-ubun. Ia sangat kecewa. Merasa dihianati oleh darah daginya sendiri. Oleh dia yang menjadi alasan Pak Mardi kemudian menjadi pincang karena serbuan bengis pemberontak. Oleh dia yang sebenarnya adalah buah kebanggannya. Karena ia sudah menjadi pegawai dinas negeri. Berpangkat tinggi. Sejak dulu ia sanjung dan berbangga. Namun kini menampar tua renta yang telah bertaruh nyawa demi kedaulatan hidup anak-cucunya.
“Yo sabar dulu to Pak! Siapa tahu ini akal-akalan orang atas”, Wardi berusaha menenangkan bapaknya.
“Tidak! Semua sudah jelas“, Pak Mardi bersikeras. Semua hanya bisa diam menunduk, terisak dan menangis dalam pilu.