Mataku masih merah, karena berita duka lara semalam. Hatiku
masih terluka, bekas sayatan takdir yang datang menjelang malam. Air mataku
belum mengering sejak pertama menggenang. Aku begitu luka, aku begitu nelangsa.
Hatiku begitu sesak, hatiku begitu mengisak. Memang takdir yang terjadi
semalam, tetaplah takdir yang harus aku terima dengan lapang. Harus aku terima
dengan tegaknya kepala. Harus aku terima dengan senyum yang menganga. Tapi
entah kenapa, aku masih tak mau menerima semuanya. Masih begitu nelangsa. Sebenarnya
alasanku merana tidaklah begitu istimewa. Tak begitu seberapa. Tak begitu
berasa. Tak begitu seharusnya aku menangis meronta penuh lara. Karena kurasa
saat itu terlalu biasa.
Kemarin aku masih baik-baik saja, bahkan begitu bahagia.
Seperti biasa, aku masih makan sahur dan berbuka puasa. Masih menikmati hidup
bersama keluarga tercinta. Walaupun dengan jumlah keluarga yang tersisa. Ya.
Aku sudah lama menjanda. Sejak dua tahun aku melahirkan anak kedua. Sejak
suamiku terakhir kali pamit berangkat kerja. Barangkali kisah hari itu masih
terngiang. Memilukan, menyedihkan dan menyakitkan. Tapi toh sekarang aku sudah
bisa menerima kenyataan, bahwa aku sudah menjanda. Bahwa suamiku kini sudah
tiada. Bahwa anak-anakku sudah tak ber-bapak seorang dia. Alhamdulillah,
Yang Maha Kuasa sudah berkenan menabahkan gontai langkah hidupku. Meskipun
terpaksa aku menjadi babu dan memeras keringat sekuat tenaga. Meskipun jari
lentikku tak lagi terasa. Meskipun paras cantikku tak lagi ayu mempesona. Sejak
itu, aku merasa semakin cepat tua saja. Teman sebayaku masih terlihat muda, tak
seperti aku. Terlihat tua. Tapi sekali lagi alhamdulillah. Aku masih
bisa merasa semua pengorbananku berharga. Aku ikhlas demi meraih ridho-Nya. Meskipun
aku kerap kali mengharapkan semuanya diganjar Yang Maha Sempurna. Ya semoga
sorga. Tapi paling tidak itulah ikhlas menurut rata-rata manusia. Semoga Tuhan
mau memaklumi karena Dia memang Maha Mengetahui, termasuk yang didalam hati
semacam ini.
Tidak terasa, kisah aku sebagai tulang punggung keluarga
sudah berlangsung begitu lama. Sudah lima belas tahun. Anakku yang pertama saja
sudah merantau mencari rizki penghidupan. Anakku yang kedua sebentar lagi lulus
SMA. Alah mak! Bukan main aku bahagianya. Alah mak! Bukan main aku bangganya.
Alah mak! Bukan kepalang aku mengenang perjuangan semuanya. Alah mak! Sampai
beribu-ribu kali hari itu aku alah mak. Aku merasa sebagai ibu paling sukses
sedunia. Aku merasa sebagai pendidik anak paling berhasil menuntun anak bangsa.
Aku merasa sebagai pelindung sempurna bagi gersangnya hidup dunia. Aku merasa
sebagai yang paling didunia. Begitulah pokoknya.
Kemarin-kemarin aku mengirim kabar lewat tetangga. Aku meminta
menghubungkan kabar kepada anak pertama di Jakarta. “Kami sehat nak! Cepatlah
pulang mudik dan mari kita menikmati lebaran bersama!”, kurang lebih begitu
tetanggaku mengabarkannya. Kata tetangga, “Iya mak! Aku akan pulang seminggu
sebelum lebaran dirayakan oleh kita. Doakan mak! Semoga anakmu tak berhalangan dan
bercepat segera menyelesaikan tugas kerja”. Begitu kiranya dia membalas kabar
kita sekeluarga.
Tapi, “Aku baru bisa nyampe rumah sore menjelang buka puasa
terakhir mak! Tugasku masih menumpuk mak! Maafkan mak!”, anakku pertama mengiba
meminta kelapangan dada. Beberapa hari kemarin tetangga menyampaikan kabar
darinya. Sebenarnya hari kemarin adalah terakhir kami berpuasa. Tapi karena
pemerintah menyatakan belum ada tanda untuk mengakhiri puasa, lebaran pun belum
sepenuhnya paripurna. Kami mendengarkan lewat radio. Kami mengharapkan
anugerah, buka perbedaan semacam itu. Tapi ternyata tidak. Tuhan berkata lain. Ada
alasan tersendiri untuk pemerintah berkata belum, sementara kami berkata sudah.
Tetap tidak dengan kami, tetangga dan daerah kami menyatakan sebelum hari kemarin
adalah hari terakhir berpuasa. Ya. Biarkan pemerintah mau bilang apa, toh kami
sudah menyatakan telah usai puasa. Dengan jalan ulama kami yang tak kalah
bijaksana dan berkuasa.
Tapi itu dulu-dulu. Karena kami masih bisa berlebaran
bersama. Kali ini adalah aku mengharap untuk berlebaran bersama kedua anakku.
Karena dua tahun kemarin anakku itu berangkat merantau ke Jakarta. Dan tahun
ini adalah harapanku untuk pertama berlebaran bersama lagi. Setelah tiga tahun
terakhir ini tidak. Maka aku tak serta merta setuju menganggukkan kepala dengan
keputusan khalayak di daerah kami. Anakku di Jakarta, dia mengatakan masih ada
puasa besok. Masih ada. Karena dia mengikuti apa kata daerah sana. Kami tidak,
tetap tidak. Bagaimanapun tetap tidak. Kami sudah menentukan masa terakhir kami
berpuasa. Meskipun aku ragu. Haruskah kami memutuskan untuk tetap berpuasa?
Haruskah menunggu hasil dahaga dengan menunda untuk bisa bahagia bersama? “Ah
tapi tidak. Aku takut dianggap keluar dari golongan yang ada mengelilingi kami.
Terlaku tak enak”, hatiku menjawab kergauan itu. Tapi kadang aku menanyakan
ulang keputusanku kembali.
Akhirnya aku hanya bisa memimpikan; ada keajaiban merubah penetapan
perbedaan waktu ini. Atau, Tuhan menyamakan dua hari yang berbeda untuk bisa
kami menikmati hari raya bersama. Tapi ternyata tidak. Kemarin selalu kemarin,
sekarang tetaplah sekarang dan besok adalah besok. Terpaksa kami lagi-lagi tak
bisa berlebaran bersama. Memilukan. Sangat! Tapi tak apalah. Meskipun berat untuk
aku menyatakan tak apa. Paling tidak besok kami menikmati lebaran bersama.
Meskipun dihari yang aneh. Hari kedua untuk kami berdua dan hari pertama untuk
dirinya. “Tapi kan sama-sama lebaran. Tak apalah”, hatiku menyangkal. Mencoba
mengibur, tapi memekik, tetap tak kuasa.
Kemarin sore katanya dia sampai di terminal, maka aku suruh
anak keduaku menjemputnya disana. Siapa tahu dia butuh bantuan untuk memanggul
bekal dan buah tangannya. Maka siang itu kusuruh anak keduaku untuk
menjemputnya. Sepertinya tengah siang bolong mereka sudah bertemu disana. Di
terminal yang empat jam dengan bus kami menempuhnya. Karena sore kian merajut
gelap. Kusiapkan menu buka puasanya. Ya kami berpura-pura bodoh sajalah, untuk
seolah terakhir berbuka puasa. Aku menunggu menanti kedatangan mereka, ku
nyalakan radio. Ingin ku menyimak berita pengumuman lebaran versi pemerintah.
Ya benar. Ternyata memang benar, kata mereka lebaran baru sekarang. Baru
sekarang. Bukan kemarin.
Lalu aku beranjak mau mematikan radio. Soalnya maghrib
sudah berkumandang, sementara anakku belum berpulang. Resa aku. Aku memencet
tombol off di radio. Sebelum benar benar-benar radio mati, kudengar ada berita
kecelakaan. Ah tetap aku tak tertarik. Terlalu biasa bagiku. Apalagi masa-masa
mudik seperti sekarang.
Sekarang aku masih meratap, sejak tadi malam. Aku tak bisa
berkata-kata, sementara mataku terus berkaca-kaca. Disamping dua batu nisan
yang masih begitu baru. Baru beberapa menit yang lalu. Aku masih begitu resah
dan sangat bersalah. Karena sebuah berita selepas pengumuman lebaran dari
pemerintah, sore kemarin. Berita yang ku anggap “terlalu biasa bagiku”.
Bahagiaku kini kian mengering.
Kami mengharap waktu yang sama, untuk bisa bahagia bersama.
Kairo, 17 Agustus 2012.









0 komentar:
Posting Komentar