Kamis, 29 November 2012

Terlalu Biasa


Mataku masih merah, karena berita duka lara semalam. Hatiku masih terluka, bekas sayatan takdir yang datang menjelang malam. Air mataku belum mengering sejak pertama menggenang. Aku begitu luka, aku begitu nelangsa. Hatiku begitu sesak, hatiku begitu mengisak. Memang takdir yang terjadi semalam, tetaplah takdir yang harus aku terima dengan lapang. Harus aku terima dengan tegaknya kepala. Harus aku terima dengan senyum yang menganga. Tapi entah kenapa, aku masih tak mau menerima semuanya. Masih begitu nelangsa. Sebenarnya alasanku merana tidaklah begitu istimewa. Tak begitu seberapa. Tak begitu berasa. Tak begitu seharusnya aku menangis meronta penuh lara. Karena kurasa saat itu terlalu biasa.

Kemarin aku masih baik-baik saja, bahkan begitu bahagia. Seperti biasa, aku masih makan sahur dan berbuka puasa. Masih menikmati hidup bersama keluarga tercinta. Walaupun dengan jumlah keluarga yang tersisa. Ya. Aku sudah lama menjanda. Sejak dua tahun aku melahirkan anak kedua. Sejak suamiku terakhir kali pamit berangkat kerja. Barangkali kisah hari itu masih terngiang. Memilukan, menyedihkan dan menyakitkan. Tapi toh sekarang aku sudah bisa menerima kenyataan, bahwa aku sudah menjanda. Bahwa suamiku kini sudah tiada. Bahwa anak-anakku sudah tak ber-bapak seorang dia. Alhamdulillah, Yang Maha Kuasa sudah berkenan menabahkan gontai langkah hidupku. Meskipun terpaksa aku menjadi babu dan memeras keringat sekuat tenaga. Meskipun jari lentikku tak lagi terasa. Meskipun paras cantikku tak lagi ayu mempesona. Sejak itu, aku merasa semakin cepat tua saja. Teman sebayaku masih terlihat muda, tak seperti aku. Terlihat tua. Tapi sekali lagi alhamdulillah. Aku masih bisa merasa semua pengorbananku berharga. Aku ikhlas demi meraih ridho-Nya. Meskipun aku kerap kali mengharapkan semuanya diganjar Yang Maha Sempurna. Ya semoga sorga. Tapi paling tidak itulah ikhlas menurut rata-rata manusia. Semoga Tuhan mau memaklumi karena Dia memang Maha Mengetahui, termasuk yang didalam hati semacam ini.
Tidak terasa, kisah aku sebagai tulang punggung keluarga sudah berlangsung begitu lama. Sudah lima belas tahun. Anakku yang pertama saja sudah merantau mencari rizki penghidupan. Anakku yang kedua sebentar lagi lulus SMA. Alah mak! Bukan main aku bahagianya. Alah mak! Bukan main aku bangganya. Alah mak! Bukan kepalang aku mengenang perjuangan semuanya. Alah mak! Sampai beribu-ribu kali hari itu aku alah mak. Aku merasa sebagai ibu paling sukses sedunia. Aku merasa sebagai pendidik anak paling berhasil menuntun anak bangsa. Aku merasa sebagai pelindung sempurna bagi gersangnya hidup dunia. Aku merasa sebagai yang paling didunia. Begitulah pokoknya.

Kemarin-kemarin aku mengirim kabar lewat tetangga. Aku meminta menghubungkan kabar kepada anak pertama di Jakarta. “Kami sehat nak! Cepatlah pulang mudik dan mari kita menikmati lebaran bersama!”, kurang lebih begitu tetanggaku mengabarkannya. Kata tetangga, “Iya mak! Aku akan pulang seminggu sebelum lebaran dirayakan oleh kita. Doakan mak! Semoga anakmu tak berhalangan dan bercepat segera menyelesaikan tugas kerja”. Begitu kiranya dia membalas kabar kita sekeluarga.

Tapi, “Aku baru bisa nyampe rumah sore menjelang buka puasa terakhir mak! Tugasku masih menumpuk mak! Maafkan mak!”, anakku pertama mengiba meminta kelapangan dada. Beberapa hari kemarin tetangga menyampaikan kabar darinya. Sebenarnya hari kemarin adalah terakhir kami berpuasa. Tapi karena pemerintah menyatakan belum ada tanda untuk mengakhiri puasa, lebaran pun belum sepenuhnya paripurna. Kami mendengarkan lewat radio. Kami mengharapkan anugerah, buka perbedaan semacam itu. Tapi ternyata tidak. Tuhan berkata lain. Ada alasan tersendiri untuk pemerintah berkata belum, sementara kami berkata sudah. Tetap tidak dengan kami, tetangga dan daerah kami menyatakan sebelum hari kemarin adalah hari terakhir berpuasa. Ya. Biarkan pemerintah mau bilang apa, toh kami sudah menyatakan telah usai puasa. Dengan jalan ulama kami yang tak kalah bijaksana dan berkuasa.
Tapi itu dulu-dulu. Karena kami masih bisa berlebaran bersama. Kali ini adalah aku mengharap untuk berlebaran bersama kedua anakku. Karena dua tahun kemarin anakku itu berangkat merantau ke Jakarta. Dan tahun ini adalah harapanku untuk pertama berlebaran bersama lagi. Setelah tiga tahun terakhir ini tidak. Maka aku tak serta merta setuju menganggukkan kepala dengan keputusan khalayak di daerah kami. Anakku di Jakarta, dia mengatakan masih ada puasa besok. Masih ada. Karena dia mengikuti apa kata daerah sana. Kami tidak, tetap tidak. Bagaimanapun tetap tidak. Kami sudah menentukan masa terakhir kami berpuasa. Meskipun aku ragu. Haruskah kami memutuskan untuk tetap berpuasa? Haruskah menunggu hasil dahaga dengan menunda untuk bisa bahagia bersama? “Ah tapi tidak. Aku takut dianggap keluar dari golongan yang ada mengelilingi kami. Terlaku tak enak”, hatiku menjawab kergauan itu. Tapi kadang aku menanyakan ulang keputusanku kembali.

Akhirnya aku hanya bisa memimpikan; ada keajaiban merubah penetapan perbedaan waktu ini. Atau, Tuhan menyamakan dua hari yang berbeda untuk bisa kami menikmati hari raya bersama. Tapi ternyata tidak. Kemarin selalu kemarin, sekarang tetaplah sekarang dan besok adalah besok. Terpaksa kami lagi-lagi tak bisa berlebaran bersama. Memilukan. Sangat! Tapi tak apalah. Meskipun berat untuk aku menyatakan tak apa. Paling tidak besok kami menikmati lebaran bersama. Meskipun dihari yang aneh. Hari kedua untuk kami berdua dan hari pertama untuk dirinya. “Tapi kan sama-sama lebaran. Tak apalah”, hatiku menyangkal. Mencoba mengibur, tapi memekik, tetap tak kuasa.
Kemarin sore katanya dia sampai di terminal, maka aku suruh anak keduaku menjemputnya disana. Siapa tahu dia butuh bantuan untuk memanggul bekal dan buah tangannya. Maka siang itu kusuruh anak keduaku untuk menjemputnya. Sepertinya tengah siang bolong mereka sudah bertemu disana. Di terminal yang empat jam dengan bus kami menempuhnya. Karena sore kian merajut gelap. Kusiapkan menu buka puasanya. Ya kami berpura-pura bodoh sajalah, untuk seolah terakhir berbuka puasa. Aku menunggu menanti kedatangan mereka, ku nyalakan radio. Ingin ku menyimak berita pengumuman lebaran versi pemerintah. Ya benar. Ternyata memang benar, kata mereka lebaran baru sekarang. Baru sekarang. Bukan kemarin. 

Lalu aku beranjak mau mematikan radio. Soalnya maghrib sudah berkumandang, sementara anakku belum berpulang. Resa aku. Aku memencet tombol off di radio. Sebelum benar benar-benar radio mati, kudengar ada berita kecelakaan. Ah tetap aku tak tertarik. Terlalu biasa bagiku. Apalagi masa-masa mudik seperti sekarang.
Sekarang aku masih meratap, sejak tadi malam. Aku tak bisa berkata-kata, sementara mataku terus berkaca-kaca. Disamping dua batu nisan yang masih begitu baru. Baru beberapa menit yang lalu. Aku masih begitu resah dan sangat bersalah. Karena sebuah berita selepas pengumuman lebaran dari pemerintah, sore kemarin. Berita yang ku anggap “terlalu biasa bagiku”. Bahagiaku kini kian mengering.


Kami mengharap waktu yang sama, untuk bisa bahagia bersama.
Kairo, 17 Agustus 2012. 

0 komentar:

Posting Komentar