Ompol Dewa
Serulingmas, Seruan Eling
Banyumas, adalah organisasi paguyuban bagi orang-orang asal Jawa Tengah bagian
barat (Cilacap, Banyumas, Purbalingga, Kebumen, dll). Paguyuban ini terkenal
dengan bahasa jawa ngapak-nya. Selain ada di Indonesia, sekarang
Serulingmas juga ada di Mesir. Ya. Mahasiswa Indonesia Mesir asal daerah
tersebut tentunya yang mendirikannya. Layaknya paguyuban, Serulingmas sering
mengadakan acara pertemuan. Pada 7 November 2011 yang lalu Serulingmas punya
gawe yang lain dari biasanya. Ngupret, ya begitulah acara Serulingmas
ini. Ngupret adalah istilah yang biasa dikenal di kalangan Mahasiswa
Mesir. Sedangkan ngupret sendiri artinya adalah “napak tilas sejarah”. Karena
banyaknya situs peninggalan yang bisa kita kunjungi di Mesir, maka ngupret
sudah membudaya dikalangan mahasiswa sini.
Acara ini sebenarnya merupakan
rangkaian acara dalam rangka menyambut hari raya kurban. Karena selang dua hari dari acara ini, kami akan
kembali menghelat sebuah acara . Yaitu praktek penyembelihan dan santap hidangan kurban di Sekolah Indonesia
Cairo(SIC). Ngupret kawan-kawan ngapak kali ini berhaluan ke daerah Fayoum. Sebelum bertolak, kami
berkumpul di depan Konsuler KBRI Cairo yang bertempat di daerah distrik H-10.
Pukul 07.20 WIK semua peserta ngupret siap bertolak. Setelah semua naik,
ternyata eh ternyata dari arah sekretariat KSW (Kelompok Studi Walisongo)
muncul seorang teman kita, Kang Dayat. Dengan santainya berjalan lenggang
menuju bus walaupun sudah terlambat. Dengan kedatangan pejaka satu ini, maka
berangkatlah jemaah koplak tapi kompak menuju tempat rekreasi.
Suasana perjalanan begitu
hangat dan ramai. Anak-anak Serulingmas memang terkenal dengan banyolan dan
canda tawanya. Maka perjalan selalu ramai. Di perjalanan Faiz alias Ariel
Kalisabuk menyanyikan lagu-lagu band Peterpan. Tidak ketinggalan juga
ceplas-ceplos ketua panitia, Syaeful Karyadi, yang turut menghangatkan
perjalanan. Sebelum memasuki jalan tol, Mas Furqon membagi-bagikan doorprize.
Kawan kita, Hartono, beruntung karena berhasil menggondol doorprize yang
diselenggarakan panitia ini. Selanjutnya doorprize berupa voucher makan gratis di rumah makan yang
disumbangkan Mas Abu. Tidak mau ketinggalan dengan sponsor doorprize
menggiurkan dari dua orang tadi, Husen muncul bak pahlawan bertopeng. Ia
memberikan doorprize yang pelit yaitu uang cash sebesar 5 Pound. Sambil
tertawa, pertanyaan ia gelontorkan ke publik peserta rihlah.” Sapa sing pulsane
paling sethithik ngomong aku!(siapa yang pulsanya paling sedkit bilang ke aku?),”
begitu lontarnya. Mendengar pertanyaan ini kami langsung mengambil HP dan
memeriksa pulsa. Badrus Soleh, pemuda yang baru sampai Mesir, maju sebagai
pemenang. Tentunya karena pulsanya paling sedikit diantara yang lain. Maka dia
berhak mendapatkan voucher.
Siang sebelum dzuhur bus
rombongan ngapak sampai di istana peninggalan raja Qarun. Sebelum
memasuki area peninggalan Qarun, kami menyantap nasi goreng sebagai sarapan
yang dihidangkan agak kesiangan. Setelah selesai makan, semua langsung memasuki
area istana peninggalan Qarun. Di depan satu-satunya istana peninggalan raja
Qarun yang masih terisa itu, kami berpose ria mengambil foto. Puas dengan berpotret
didepan istana peninggalan Qarun, rombongan masuk ke dalam bangunan istana. Di
atas istana, sesi jeprat-jepret kembali di gelar.
Tepat ketika azan zuhur
berkumandang, kami kembali ke bus melanjutkan perjalanan. Tujuan selanjutnya
adalah gurun pasir didekat kawasan Wady Rayan (air terjun Rayan). Sampai di
kawasan padang pasir yang memanjakan mata, bus kembali berhenti. Jamaah pun
langsung turun sambil berlarian, kembali bersiap berpose mengambil gambar.
Berbagai pose dipraktekan disana. Ada yang berpose sambil tidur, jongkok duduk,
loncat dan sebagainya. Kami terlena dengan keindahan bentangan pasir halus.
Setelah puas disana, kemudian kami bertolak ke arena wisata Wady Rayan (air
terjun Rayan). Menurut Syaeful Karyadi ketika memandu di dalam bus, air terjun
ini berada di tengah-tengah padang pasir yang luas. Aliran air terjun ini bermuara
ke danau Qarun. Danau yang hampir mirip pantai ini tidak terletak tidak jauh
Wady Rayan. Sampai disana, kami sedikit keccewa dengan obyek wisata ini. Karena
air terjun yang disebut oleh orang Mesir ternyata hanya turunan aliran air
sungai kecil, kotor dan bau. Begitulah orang Mesir, sering membesar-besarkan
sebuah nama. Termasuk air terjun ini. Tapi meskipun begitu, susana tetap menyenangkan
dengan canda tawa yang begitu akrab.
Tidak lama di arena Wady Rayan, rombongan
kembali meneruskan perjalanan ke Kincir Air Nabi Yusuf. Lelah dengan perjalanan
panjang romongan pun terlelap. Kemudian Syaeful Karyadi membangunkan dengan celetukan
khasnya. Doorprize kembali di bagikan. Kali ini Ali yang memenangkan hadiah
berupa voucher jasa pengiriman barang. Selang tidak berapa lama, bus kembali
berhenti karena perut kami keroncongan. Bus berhenti di samping danau, tepat di
daerah yang mirip sebuah dermaga. Ayam bumbu sedap, sambal pedas, krupuk, oseng
kenthang menggoyang mulut kami. Ditemani pemandangan ombak-ombak kecil semua
larut dalam suasana santap makan siang yang dihidangkan kesorean.
Setelah kenyang, kami kembali
melanjutkan perjalanan. Tapi di samping penghujung danau, bus kembali berhenti.
Kami hendak melaksanakan shalat jamak zuhur dan asar. Selesai shalat, kami
kembali melanjutkan perjalanan ke tujuan akhir, Kincir Air Nabi Yusuf. Karena
habis makan, mata kami mulai mengantuk. Untuk menghilangkan kantuk, doorprize
kembali disuguhkan untuk menyegarkan gairah rombongan. Semua kembali terbangun.
Tarto Sobinji berhasil menyabet hadiah doorprize terakhir tersebut.
Petang menjelang maghrib, Husen
membangunkan rombongan karena katanya sudah sampai lokasi. Kami sedikit heran
dengan lokasi tersebut, yang kata Husen merupakan lokasi Kincir Air Musa.
Setelah tiket masuk dibagikan panitia, kami pun memasuki lokasi. Sambil lirak-lirik
kanan kiri, perasaan ragu semakin mencuat. Keraguan ini menjadi perdebatan
beraroma banyolan khas Serulingmas. Bunyi peluit wasi bola voli, mencuri
perhatian kami. Menengoklah kami kearah kanan. Diujung sudut terlihatlah warga
setempat sedang ramai bermain voli. Disamping kanan lapangan ada semacam taman yang
ramai dengan pengunjung. Aku menengok kea rah kiri. Ada sebuah papan
bertuliskan “Hadiqah Qarun”. Taman Qarun itu rusak tak terawat. Disamping taman
para penjual kacang, mangga dan souvenir menyambut kedatangan kami. Walaupun
keadan lokasi ramai, tapi keadaan ini tidak bisa menghilangkan perasaan ragu
kami. Setelah berjalan hampir dua ratusan meter, kami sampai di ujung jalan.
Disana berdiri taman air mancur kecil yang lusuh tak terawat. Tengok kanan-kiri, rombongan
akhirnya bertanya pada orang mesir yang ada di situ. Ternyata keraguan itu
terjawab lugas. Ternyata kita salah alamat. Melihat kejadian lucu ini, Hilmi
menyelethuk, “Anu arep meng kincir air malah sidane kesasar meng ompol Dewa”(mau
ke kincir air malah nyasar ke ompol Dewa). Hahahaha. Suara tawa menyeruak menghilangkan
perasaan bingung kami. Semua tertawa dengan banyolan itu.
Setelah tertawa ria di lokasi
tempat nyasar, rombongan kembali ke bus. Tapi kendati demikian, sampai di bus
panitia memutuskan untuk tidak meneruskan perjalanan ke tujuan akhir. Panitia
memilih untuk bertolak ke Kairo karena hari sudah larut. Meskipun tersesat dan
kehilangan tujuan lokasi ngupret terakhir, kincir air Musa, tapi tidak satupun
yang kecewa. Bahkan semua kelihatan begitu ceria. Berkat lawakan bertema “ompol
Dewa” yang dilontarkan Hilmy seolah semua lupa bahwa kami tersesat.Malah kami
begitu puas dengan banyolan itu. Begitulah cerita bagaimana bisa istilah ompol
Dewa muncul di kalangan Serulinmas Mesir. Hahahaaaa!!!










0 komentar:
Posting Komentar