Kamis, 29 November 2012

Pesona Negeri Kinanah


Ompol Dewa
Serulingmas, Seruan Eling Banyumas, adalah organisasi paguyuban bagi orang-orang asal Jawa Tengah bagian barat (Cilacap, Banyumas, Purbalingga, Kebumen, dll). Paguyuban ini terkenal dengan bahasa jawa ngapak-nya. Selain ada di Indonesia, sekarang Serulingmas juga ada di Mesir. Ya. Mahasiswa Indonesia Mesir asal daerah tersebut tentunya yang mendirikannya. Layaknya paguyuban, Serulingmas sering mengadakan acara pertemuan. Pada 7 November 2011 yang lalu Serulingmas punya gawe yang lain dari biasanya. Ngupret, ya begitulah acara Serulingmas ini. Ngupret adalah istilah yang biasa dikenal di kalangan Mahasiswa Mesir. Sedangkan ngupret sendiri artinya adalah “napak tilas sejarah”. Karena banyaknya situs peninggalan yang bisa kita kunjungi di Mesir, maka ngupret sudah membudaya dikalangan mahasiswa sini.

Acara ini sebenarnya merupakan rangkaian acara dalam rangka menyambut hari raya kurban. Karena selang dua hari dari acara ini, kami akan kembali menghelat sebuah acara . Yaitu praktek penyembelihan dan santap hidangan kurban di Sekolah Indonesia Cairo(SIC)Ngupret kawan-kawan ngapak kali ini berhaluan ke daerah Fayoum. Sebelum bertolak, kami berkumpul di depan Konsuler KBRI Cairo yang bertempat di daerah distrik H-10. Pukul 07.20 WIK semua peserta ngupret siap bertolak. Setelah semua naik, ternyata eh ternyata dari arah sekretariat KSW (Kelompok Studi Walisongo) muncul seorang teman kita, Kang Dayat. Dengan santainya berjalan lenggang menuju bus walaupun sudah terlambat. Dengan kedatangan pejaka satu ini, maka berangkatlah jemaah koplak tapi kompak menuju tempat rekreasi.

Suasana perjalanan begitu hangat dan ramai. Anak-anak Serulingmas memang terkenal dengan banyolan dan canda tawanya. Maka perjalan selalu ramai. Di perjalanan Faiz alias Ariel Kalisabuk menyanyikan lagu-lagu band Peterpan. Tidak ketinggalan juga ceplas-ceplos ketua panitia, Syaeful Karyadi, yang turut menghangatkan perjalanan. Sebelum memasuki jalan tol, Mas Furqon membagi-bagikan doorprize. Kawan kita, Hartono, beruntung karena berhasil menggondol doorprize yang diselenggarakan panitia ini. Selanjutnya doorprize berupa voucher makan gratis di rumah makan yang disumbangkan Mas Abu. Tidak mau ketinggalan dengan sponsor doorprize menggiurkan dari dua orang tadi, Husen muncul bak pahlawan bertopeng. Ia memberikan doorprize yang pelit yaitu uang cash sebesar 5 Pound. Sambil tertawa, pertanyaan ia gelontorkan ke publik peserta rihlah.” Sapa sing pulsane paling sethithik ngomong aku!(siapa yang pulsanya paling sedkit bilang ke aku?),” begitu lontarnya. Mendengar pertanyaan ini kami langsung mengambil HP dan memeriksa pulsa. Badrus Soleh, pemuda yang baru sampai Mesir, maju sebagai pemenang. Tentunya karena pulsanya paling sedikit diantara yang lain. Maka dia berhak mendapatkan voucher.
                                 
Siang sebelum dzuhur bus rombongan ngapak sampai di istana peninggalan raja Qarun. Sebelum memasuki area peninggalan Qarun, kami menyantap nasi goreng sebagai sarapan yang dihidangkan agak kesiangan. Setelah selesai makan, semua langsung memasuki area istana peninggalan Qarun. Di depan satu-satunya istana peninggalan raja Qarun yang masih terisa itu, kami berpose ria mengambil foto. Puas dengan berpotret didepan istana peninggalan Qarun, rombongan masuk ke dalam bangunan istana. Di atas istana, sesi jeprat-jepret kembali di gelar.

Tepat ketika azan zuhur berkumandang, kami kembali ke bus melanjutkan perjalanan. Tujuan selanjutnya adalah gurun pasir didekat kawasan Wady Rayan (air terjun Rayan). Sampai di kawasan padang pasir yang memanjakan mata, bus kembali berhenti. Jamaah pun langsung turun sambil berlarian, kembali bersiap berpose mengambil gambar. Berbagai pose dipraktekan disana. Ada yang berpose sambil tidur, jongkok duduk, loncat dan sebagainya. Kami terlena dengan keindahan bentangan pasir halus. Setelah puas disana, kemudian kami bertolak ke arena wisata Wady Rayan (air terjun Rayan). Menurut Syaeful Karyadi ketika memandu di dalam bus, air terjun ini berada di tengah-tengah padang pasir yang luas. Aliran air terjun ini bermuara ke danau Qarun. Danau yang hampir mirip pantai ini tidak terletak tidak jauh Wady Rayan. Sampai disana, kami sedikit keccewa dengan obyek wisata ini. Karena air terjun yang disebut oleh orang Mesir ternyata hanya turunan aliran air sungai kecil, kotor dan bau. Begitulah orang Mesir, sering membesar-besarkan sebuah nama. Termasuk air terjun ini. Tapi meskipun begitu, susana tetap menyenangkan dengan canda tawa yang begitu akrab.

Tidak lama di arena Wady Rayan, rombongan kembali meneruskan perjalanan ke Kincir Air Nabi Yusuf. Lelah dengan perjalanan panjang romongan pun terlelap. Kemudian Syaeful Karyadi membangunkan dengan celetukan khasnya. Doorprize kembali di bagikan. Kali ini Ali yang memenangkan hadiah berupa voucher jasa pengiriman barang. Selang tidak berapa lama, bus kembali berhenti karena perut kami keroncongan. Bus berhenti di samping danau, tepat di daerah yang mirip sebuah dermaga. Ayam bumbu sedap, sambal pedas, krupuk, oseng kenthang menggoyang mulut kami. Ditemani pemandangan ombak-ombak kecil semua larut dalam suasana santap makan siang yang dihidangkan kesorean.

Setelah kenyang, kami kembali melanjutkan perjalanan. Tapi di samping penghujung danau, bus kembali berhenti. Kami hendak melaksanakan shalat jamak zuhur dan asar. Selesai shalat, kami kembali melanjutkan perjalanan ke tujuan akhir, Kincir Air Nabi Yusuf. Karena habis makan, mata kami mulai mengantuk. Untuk menghilangkan kantuk, doorprize kembali disuguhkan untuk menyegarkan gairah rombongan. Semua kembali terbangun. Tarto Sobinji berhasil menyabet hadiah doorprize terakhir tersebut.

Petang menjelang maghrib, Husen membangunkan rombongan karena katanya sudah sampai lokasi. Kami sedikit heran dengan lokasi tersebut, yang kata Husen merupakan lokasi Kincir Air Musa. Setelah tiket masuk dibagikan panitia, kami pun memasuki lokasi. Sambil lirak-lirik kanan kiri, perasaan ragu semakin mencuat. Keraguan ini menjadi perdebatan beraroma banyolan khas Serulingmas. Bunyi peluit wasi bola voli, mencuri perhatian kami. Menengoklah kami kearah kanan. Diujung sudut terlihatlah warga setempat sedang ramai bermain voli. Disamping kanan lapangan ada semacam taman yang ramai dengan pengunjung. Aku menengok kea rah kiri. Ada sebuah papan bertuliskan “Hadiqah Qarun”. Taman Qarun itu rusak tak terawat. Disamping taman para penjual kacang, mangga dan souvenir menyambut kedatangan kami. Walaupun keadan lokasi ramai, tapi keadaan ini tidak bisa menghilangkan perasaan ragu kami. Setelah berjalan hampir dua ratusan meter, kami sampai di ujung jalan. Disana berdiri taman air mancur kecil yang lusuh tak terawat. Tengok kanan-kiri, rombongan akhirnya bertanya pada orang mesir yang ada di situ. Ternyata keraguan itu terjawab lugas. Ternyata kita salah alamat. Melihat kejadian lucu ini, Hilmi menyelethuk, “Anu arep meng kincir air malah sidane kesasar meng ompol Dewa”(mau ke kincir air malah nyasar ke ompol Dewa). Hahahaha. Suara tawa menyeruak menghilangkan perasaan bingung kami. Semua tertawa dengan banyolan itu.

Setelah tertawa ria di lokasi tempat nyasar, rombongan kembali ke bus. Tapi kendati demikian, sampai di bus panitia memutuskan untuk tidak meneruskan perjalanan ke tujuan akhir. Panitia memilih untuk bertolak ke Kairo karena hari sudah larut. Meskipun tersesat dan kehilangan tujuan lokasi ngupret terakhir, kincir air Musa, tapi tidak satupun yang kecewa. Bahkan semua kelihatan begitu ceria. Berkat lawakan bertema “ompol Dewa” yang dilontarkan Hilmy seolah semua lupa bahwa kami tersesat.Malah kami begitu puas dengan banyolan itu. Begitulah cerita bagaimana bisa istilah ompol Dewa muncul di kalangan Serulinmas Mesir. Hahahaaaa!!!
Bottom of Form

0 komentar:

Posting Komentar