Kamis, 29 November 2012

Anu



“Saudara kami nyatakan bersalah! Saudara dijatuhi hukuman penjara selama sepuluh tahun”. Suara hakim itu mengagetkanku. Aku tak berdaya, tak bisa menerima kenyataan ini. Tanganku mengepal, dadaku mendidih penuh emosi. Bibirku bergetar menahan getir. Mataku merah termakan amarah membara.“Bangsat!”, pekikku. Aku merasa ditipu habis-habisan oleh kenyataan. “Keparat kau Rusdi!”, aku memaki. Terkadang aku merasa semua ini memang karena kebodohanku. Kenapa dulu aku begitu lugu, hingga mudah sekali aku ditipu.

Dulu aku begitu menyanjung Rusdi. Seorang sarjana pertama yang ada dikampungku itu. Dia terkenal pandai, cerdas dan penuh semangat juang membara. Hingga akupun tak pernah menaruh curiga. Pantas sajalah. Dia tak pernah menampakkan sedikitpun celah kekurangannya. Hingga aku pun rela mengabdikan diriku. Kujadikan dia panutanku. Bahkan kurelakan semua waktu, tenaga dan uangku. “Kita ini tak ubahnya seorang pilihan. Kita harus menyuarakan perubahan. Karena kita dari seribu yang dipilih untuk menegakkan kebenaran”, jelasnya kepadaku suatu saat. Aku pun terbakar penuh semangat. Walaupun hanya bisa bilang, “oooo” sambil ndomblong, melongo.

Dia adalah kader partai anu, partai kecil yang tak banyak pengikut. Namun setelah bebapa tahun belakangan partai itu berubah jadi besar. Banyak simpatisan. Selalu ramai bila mengadakan brifing dan rapat partai. Barangkali karena kehadiran pengurus partai anu itu yang segenerasi dengan Rusdi. Mereka selalu tampil menarik. Selalu terlihat nyentrik. Banyak gagasan menggelitik penuh intrik, terkemas begitu apik. Selain itu, pergerakan mereka selalu memihak kepada rakyat. Mereka sangat cekatan melihat apa yang menjadi kesulitan rakyat. Tidak hanya itu, nasionalisme ramai mereka dengungkan. Barangkali itu yang menjadikan mereka cepat berkembang besar, banyak pengikut.

Maka tak heran jika aku merasa sangat beruntung menjadi tangan kanan Rusdi, salah satu pembesar partai anu itu. “Mi, tolong anu ya! Terus anu ya! Kemudian anu ya! Jangan lupa anu ya! Kalau bisa anu ya!” suruhnya kepadaku. “Okelah kalau begitu! Siap laksanakan!“, aku mengiyakan atasanku. Aku disuruhnya ini, itu. Mondar-mandir kesini, kesitu. Mengurus persiapan rapatnya dengan kader partai anu. Berjalan dan makan bersama dimeja satu. Begitu dekat kami, hingga tak ada rahasia antara dia dan aku. Dia begitu baik, tak pernah dia memancing kesalku. Kalau aku sudah kewalahan, dia turun membantuku. Kalau aku tak paham permintaanya, dengan sabar dia mencontohkan kepadaku. Dia sudah seperti teman baik sekaligus atasanku. Tidak ada alasan untuk aku menaruh curigaku.

“Eh Mi! Besok partaiku mau mengadakan sarasehan di Semarang. Kau bisa kan mendampingiku? Aku butuh tenagamu”, dia meminta.

“Bisa, bisa. Saya siap membantu”, jawabku.

Oya, aku butuh seorang lagi untuk membantuku. Kira-kira siapa yang bisa dan mau membantu? Ehmmm, bagaimana kalau kau ajak adikmu Mi? Aku butuh cewek untuk membantu disana nanti”.

“Ehmmm, emang kapan kita ke Semarang? Berapa hari kita disana? Kan dia harus masuk sekolah”.

“Dua hari tok sih. Sabtu-Minggu depan. Ya selepas Jum’atan kita cabut. Ya tolong suruh dia ijin. Barang sehari saja, untuk kepentingan bangsa juga”.

“Oh, ya nanti aku ijinkan dia hari Sabtu. Biar semua lancar. Gampang”.
Selepas Jum’atan kami berangkat ke Semarang. Sekeluarnya dari bandara kami langsung mencari taksi menuju hotel anu. Hotel berbintang yang sangat memukauku. Di hotel ini akan diadakan rapat pertemuan partai anu. Semua serba bertuliskan partai anu. Mulai dari spanduk, pakaian hingga pernak pernik yang menempel ditubuh yang hadir disitu. Kami akan menginap di hotel ini. Sungguh indah, sangat mewah. Belum pernah aku menginap ditempat se-elit begini ini. Sekali lagi aku beruntung bisa jadi orang kepercayaan Rusdi. Teman semasa kecilku.
Kami bertiga tinggal sekamar. Biar mudah bersiap-siap kata Rusdi. Aku menurut saja. Pagi-pagi kami sudah rapi. Aku bertindak bak ajudan sungguhan. Sementara adikku berdandan seperti sekretarisnya. Dia membawa buku catatan dan map yang diamanatkan. Sedangkan Rusdi berdandan begitu rapi dan wangi. Sampai diruang rapat Rusdi mengajakku masuk. Tapi aku memilih menunggu diluar. Pusing aku dibuatnya apa yang mereka obrolkan. Tak sampai rasanya ilmuku. Pernah aku nimbrung rapat partai anu suatu saat. Tapi tak pernah aku paham apa yang mereka obrolkan, pokoknya tak sampai ilmuku. Yang kutahu partai anu memang bermisi jelas, selalu mementingkan rakyat dan nasionalis. Maka dari itu aku mending menunggu diluar, menikmati kopi dan batangan rokok. Dengan kenalan-kenalan yang banyak berposisi seperti aku.

Sore, setelah rapat selesai, aku masih asyik mengobrol dengan kenalan-kenalanku. Sementara Rusdi balik duluan kekamar dengan adikku. Hingga sore aku malah berjalan-jalan disekitar hotel dengan mereka. Kami asyik dengan berbagi pengalaman. Asyik sekali rasanya. Betah aku ditempat semacam ini dengan orang-orang semacam ini. Akhirnya, karena hari mulai malam, aku balik ke kamar. Rusdi dan adikku tertidur pulas. Sepertinya rapat itu begitu melelahkan. Aku bangunkan mereka. Setelah berdandan rapi dan mandi, kami meluncur keruang makan.

Paginya kami jalan-jalan di Semarang. Dan siangnya kami lanjut pulang ke Serang. Tapi ada yang aneh dari adikku. Dia tampak murung. Lebih pendiam dari biasanya. Mukanya lusuh seperti baju tak disetrika. “Ah, mungkin karena terlalu capek”, pikirku.

“Bangsat!” aku memaki sejadi-jadinya. Tak percaya aku. Sementara adikku menangis setelah ia menjelaskannya kepadaku. Bapak ibuku belum diberitahunya. Sebenarnya aku sudah pernah diceritakan masalah ini oleh adikku itu. Tapu tak percaya. Tapi, setelah beberapa bulan berlalu aku percaya. Perutnya semakin membuncit, meskipun masih kecil. Itu yang kemudian membuatku percaya sekaligus tak percaya. Aku bingung, aku bingun, aku bingung.

Kutemui Rusdi. Kukatakan baik-baik padanya. “Hahaha, mana mungkin aku begitu Mi! Kau tahu aku selama ini”.

“Tapi begitu terus pengakuan adikku. Mana mungkin dia berani berbohong kepadaku. Apalagi hal semacam ini” aku menolak pengakuannya.

“Miii ,Miii! Sudahlah kalau kau tak percaya. Tapi lebih baik kita ketemu besok di tempat yang nyaman buat menjelaskan semua ini”.

Setelah berganti hari, malam-malam aku dan adikku bernangkat menuju tempat yang kami janjikan. Disana Rusdi belum datang. Ada orang menjamu kami. Disuruhnya kami menunggu. Kami menyantap hidangan yang disediakan. Setelah itu, behhhh. Mataku berkunang-kunang. Kepalaku berat. Kudapati tubuhku sudah telanjang bulat. Adikkku menutupi tubuhnya dengan selimut. Dia menangis. Guguplah aku. Tak tahu apa yang terjadi. Berdiri banyak warga didepan kami berdua, terlihat marah, memaki-makiku. Aku dihajarnya oleh mereka. Tubuhku memar. 

“Bangsat! Keparat! Terlaknaaaat!”, aku memaki dan memaki, lalu memaki.
Malam hari aku menyelinap rumah Rusdi. Ada penjaga disana sini, dijaga rumahnya. Akhirnya karena tekad bulat berhasil juga kumenyelinap. Setelah kutemui dirinya sedang pulas dalam tidur, tak mau membuang waktu kuhunuskan pisau tajam kepadanya.  “Kau anu, Bangsaaat!”

Kairo, 21 Agustus 2012.



0 komentar:

Posting Komentar