Kamis, 29 November 2012

Apa Salahku?


“Sebongkah Batu Permata Tak Berdosa”
Aku adalah bongkahan kecil batu permata. Mengkilap indah merona. Memercikkan kilatan warna yang menyilaukan mata manusia. Kilatan yang dicari-cari setiap bola mata. Menyesakkan nafas mendengus terpesona. Menarik perhatian, mencari-cari asal arahnya. Menghiasi indahnya jenjang leher para wanita. Memeperdaya pandangan para pria. Selalu menjadi idaman para wanita. Tak ada yang tak menginginkanku, setiap dari mereka. Sungguh tak ada. Karena aku, batu permata.

Ya. Seharusnya. Tapi itu diriku saat dulu. Tak lagi sudah, ketika aku harus masuk kedalam peti istimewa. Terkunci rapat dan kuat. Namun karena suara tembakan itu, “dor”, aku pun menjadi barang rebutan yang menumpahkan darah. Memakan korban. Bahkan bukan hanya menjatuhkan korban yang sesungguhnya, sang perampok pun akhirnya mati menjadi korban keangkeranku. Karenaku. 
Dan ketika rintik hujan menjemput keremangan sinar senja. Ketika senja menjemput hening. Hening yang semakin memilukkan. Hening pilu yang meremang dalam petang. Senja yang menemaniku untuk menjemputnya. Sebuah petang yang menjadi pilu yang hadir bagi sesosok wanita cantik jelita. Alisnya begitu indah. Bulu matanya lentik bak daun kelapa di siang hari, melambai-lambi menawarkan kesejukkan. Kakinya menjenjang dari betisnya. Dagunya yang menjuntai manja. Apalagi ditambah dengan hiasan batu permata diujung lehernya. Hadirnya aku, batu permata. Setiap kali manusia melihat aku dan dirinya, semua pasti akan berkata; “Ah, betapa mempesonanya dia! Ah, andai dia menjadi bidadari malamku! Ah, sungguh dia paling jelita! Ah, batu permata itu semanis senyumnya, begitu ayu mempesona!”.

Namun karena sekali lagi, karena aku menjadi bagian takdirnya. Aku pun kembali menjadi ajal penjemput empunya nyawa. Dia sekarang tak lebih dari sekedar seonggok mayat. Mayat yang terdampar dipinggir jalan. Disebuah jalan turunan yang menikung, tajam. Sedangkan aku, tergeletak ditengah jalan, disampingnya. Tak jauh darinya. Sekali lagi aku tak lagi berharga seperti sebelumnya. Ketika sebelum masuk kedalam kotak istimewa.

“Pasti penyebabnya itu dia, sebuah batu permata. Dia sumber malapetaka. Ya. Ya. Ya”, semua menuduhku seperti itu.
Bahkan polisi sekalipun.

“Lapor! Sepertinya itu dia  barang buktinya komandan. Sebuah bongkahan batu permata”, bawahan melapor.

“Cepat kau masukkan mobil untuk kita jadikan barang bukti”, pinta komandan.

”Waduhhh! Mana berani saya komandan”.

Kenapa? Ini perintah, laksanakan!”

“Aduhhh! Persoalannya begini komandan, bla bla bla”.

“Benarkah begini?”

“Iya komandan! Silahkan tanya saja kepada warga sekitar. Sungguh komandan”.

“Baiklah. Sudah biarkan saja. Jangan kau sentuh! Biarkan! Yang penting semua sudah jelas. Dia penyebabnya. Tak perlu dibahas lebih lagi. Kasus ini kita tutup saja. Sudah cukup”.

Mereka pun membiarkanku terpisah. Hal ini yang memisahkan kisahku dan si mayat cantik jelita. Si cantik yang kukira menjadi akhir kisah menyedihkanku. Karena dia menerimaku. Namun nasib yang akhirnya memisahkan kami, meskipun hatinya menginginkanku dan akupun nyaman didekapnya. Tapi ya begitulah. Adapun kini, mereka membiarkanku tergeletak di tengah jalan. Tak ada yang menyentuhku. Tak berani, samasekali. Semua menganggapku batu pembawa sial. Bahkan ketika pak polisi olah TKP, mereka juga menuduhku, akulah penyebab semuanya.

Sejak aku tegeletak ditengah jalan ini, banyak sekali kecelakaan yang terjadi. Mulai dari bus menabrak sepeda motor, tronton yang terguling, anak kecil yang mati ringsek dilindas mobil dan lain sebagainya. Sudah tak terhitung lagi. Banyak sekali.

“Sepertinya lebih baik kita blokir saja jalan ini Pak! Kami sudah capek mengurusi korban-korbannya. Terlebih, nyawa kita semua juga terancam. Bukan begitu saudara-saudara?”

“Betuuul! Mari kita tutup saja jalannya!”

“Setujuuu!”, seru semua warga.

“Baiklah, untuk kebaikkan kita bersama. Kita tutup saja jalan itu”.

Akhirnya warga berbondong-bondong memblokir jalan. Namun karena jalan ini adalah jalan satu-satunya akses menuju kota, sehari setelahnya dibuka kembali. Antrian mobil jurusan luar dan dalam kota sudah mencapai kiloan meter. Karena itu jalan itu dibuka kembali. Dan lagi-lagi, kecelakaan terjadi lagi dan lagi.

“Bagaimana kalau kita carikan orang pintar?”

“Ya. Sepertinya ide tepat”.

Namun lagi-lagi tak berhasil. Tetap saja jatuh korban. Bahkan sudah sampai semua dukun dan orang pintar habis. Semua tak ada hasil.

“Kita adakan doa bersama saja gimana?  Dukun nggak mempan, syirik lagi. Siapa tahu penunggunya itu makhluk baik. Jadi harus diusir dengan cara baik-baik”.

“Ya, mari kita doakan bersama-sama saja!”

Ah lagi-lagi. Tak ada hasil. Masih saja berjatuhan korban. Sampai pada akhirnya, seorang melemparku jauh ke jurang disebelah kanan jalan. Tapi itu juga memakan korban. Kabar yang kudengar dia mati tertabrak sedan saat melemparku. Malah sampai mayatnya jatuh ke jurang.

Sekarang aku berada ditengah jurang. Meskipun aku berada dijurang keistimewaanku yang dulu hilang kembali lagi. Kembali aku mengkilap ketika malam gelap. Memancarkan keelokkan. Namun bahagiaku tak berlangsung lama. Seseorang memungutku. Entah bagaimana dia bisa tahu keberadaanku. Barangkali karena kilapku. Dan aku tak tahu lagi apa yang akan terjadi. Aku berharap tak ada yang mengkambing hitamkanku lagi. Karena aku hanya sebongkah batu permata. Apa salahku? Jangan salahkan aku lagi!

Kairo, 22 Agustus 2012

0 komentar:

Posting Komentar