“Sebongkah
Batu Permata Tak Berdosa”
Aku adalah
bongkahan kecil batu permata. Mengkilap indah merona. Memercikkan kilatan warna
yang menyilaukan mata manusia. Kilatan yang dicari-cari setiap bola mata. Menyesakkan
nafas mendengus terpesona. Menarik perhatian, mencari-cari asal arahnya.
Menghiasi indahnya jenjang leher para wanita. Memeperdaya pandangan para pria. Selalu
menjadi idaman para wanita. Tak ada yang tak menginginkanku, setiap dari
mereka. Sungguh tak ada. Karena aku, batu permata.
Ya. Seharusnya.
Tapi itu diriku saat dulu. Tak lagi sudah, ketika aku harus masuk kedalam peti
istimewa. Terkunci rapat dan kuat. Namun karena suara tembakan itu, “dor”, aku
pun menjadi barang rebutan yang menumpahkan darah. Memakan korban. Bahkan bukan
hanya menjatuhkan korban yang sesungguhnya, sang perampok pun akhirnya mati
menjadi korban keangkeranku. Karenaku.
Dan ketika rintik
hujan menjemput keremangan sinar senja. Ketika senja menjemput hening. Hening
yang semakin memilukkan. Hening pilu yang meremang dalam petang. Senja yang
menemaniku untuk menjemputnya. Sebuah petang yang menjadi pilu yang hadir bagi
sesosok wanita cantik jelita. Alisnya begitu indah. Bulu matanya lentik bak
daun kelapa di siang hari, melambai-lambi menawarkan kesejukkan. Kakinya
menjenjang dari betisnya. Dagunya yang menjuntai manja. Apalagi ditambah dengan
hiasan batu permata diujung lehernya. Hadirnya aku, batu permata. Setiap kali
manusia melihat aku dan dirinya, semua pasti akan berkata; “Ah, betapa
mempesonanya dia! Ah, andai dia menjadi bidadari malamku! Ah, sungguh dia
paling jelita! Ah, batu permata itu semanis senyumnya, begitu ayu mempesona!”.
Namun karena
sekali lagi, karena aku menjadi bagian takdirnya. Aku pun kembali menjadi ajal
penjemput empunya nyawa. Dia sekarang tak lebih dari sekedar seonggok mayat.
Mayat yang terdampar dipinggir jalan. Disebuah jalan turunan yang menikung,
tajam. Sedangkan aku, tergeletak ditengah jalan, disampingnya. Tak jauh
darinya. Sekali lagi aku tak lagi berharga seperti sebelumnya. Ketika sebelum masuk
kedalam kotak istimewa.
“Pasti penyebabnya
itu dia, sebuah batu permata. Dia sumber malapetaka. Ya. Ya. Ya”, semua
menuduhku seperti itu.
Bahkan polisi
sekalipun.
“Lapor! Sepertinya
itu dia barang buktinya komandan. Sebuah
bongkahan batu permata”, bawahan melapor.
“Cepat kau
masukkan mobil untuk kita jadikan barang bukti”, pinta komandan.
”Waduhhh! Mana
berani saya komandan”.
“Kenapa? Ini
perintah, laksanakan!”
“Aduhhh!
Persoalannya begini komandan, bla bla bla”.
“Benarkah begini?”
“Iya komandan!
Silahkan tanya saja kepada warga sekitar. Sungguh komandan”.
“Baiklah. Sudah
biarkan saja. Jangan kau sentuh! Biarkan! Yang penting semua sudah jelas. Dia
penyebabnya. Tak perlu dibahas lebih lagi. Kasus ini kita tutup saja. Sudah
cukup”.
Mereka pun membiarkanku
terpisah. Hal ini yang memisahkan kisahku dan si mayat cantik jelita. Si cantik
yang kukira menjadi akhir kisah menyedihkanku. Karena dia menerimaku. Namun nasib
yang akhirnya memisahkan kami, meskipun hatinya menginginkanku dan akupun
nyaman didekapnya. Tapi ya begitulah. Adapun kini, mereka membiarkanku
tergeletak di tengah jalan. Tak ada yang menyentuhku. Tak berani, samasekali.
Semua menganggapku batu pembawa sial. Bahkan ketika pak polisi olah TKP, mereka
juga menuduhku, akulah penyebab semuanya.
Sejak aku
tegeletak ditengah jalan ini, banyak sekali kecelakaan yang terjadi. Mulai dari
bus menabrak sepeda motor, tronton yang terguling, anak kecil yang mati ringsek
dilindas mobil dan lain sebagainya. Sudah tak terhitung lagi. Banyak sekali.
“Sepertinya lebih
baik kita blokir saja jalan ini Pak! Kami sudah capek mengurusi
korban-korbannya. Terlebih, nyawa kita semua juga terancam. Bukan begitu saudara-saudara?”
“Betuuul! Mari
kita tutup saja jalannya!”
“Setujuuu!”, seru
semua warga.
“Baiklah, untuk
kebaikkan kita bersama. Kita tutup saja jalan itu”.
Akhirnya warga
berbondong-bondong memblokir jalan. Namun karena jalan ini adalah jalan
satu-satunya akses menuju kota, sehari setelahnya dibuka kembali. Antrian mobil
jurusan luar dan dalam kota sudah mencapai kiloan meter. Karena itu jalan itu
dibuka kembali. Dan lagi-lagi, kecelakaan terjadi lagi dan lagi.
“Bagaimana kalau
kita carikan orang pintar?”
“Ya. Sepertinya
ide tepat”.
Namun lagi-lagi tak
berhasil. Tetap saja jatuh korban. Bahkan sudah sampai semua dukun dan orang
pintar habis. Semua tak ada hasil.
“Kita adakan doa
bersama saja gimana? Dukun nggak mempan,
syirik lagi. Siapa tahu penunggunya itu makhluk baik. Jadi harus diusir dengan
cara baik-baik”.
“Ya, mari kita
doakan bersama-sama saja!”
Ah lagi-lagi. Tak
ada hasil. Masih saja berjatuhan korban. Sampai pada akhirnya, seorang
melemparku jauh ke jurang disebelah kanan jalan. Tapi itu juga memakan korban.
Kabar yang kudengar dia mati tertabrak sedan saat melemparku. Malah sampai mayatnya
jatuh ke jurang.
Sekarang aku
berada ditengah jurang. Meskipun aku berada dijurang keistimewaanku yang dulu
hilang kembali lagi. Kembali aku mengkilap ketika malam gelap. Memancarkan
keelokkan. Namun bahagiaku tak berlangsung lama. Seseorang memungutku. Entah
bagaimana dia bisa tahu keberadaanku. Barangkali karena kilapku. Dan aku tak
tahu lagi apa yang akan terjadi. Aku berharap tak ada yang mengkambing
hitamkanku lagi. Karena aku hanya sebongkah batu permata. Apa salahku? Jangan
salahkan aku lagi!
Kairo, 22 Agustus
2012









0 komentar:
Posting Komentar