AKADEMI KEBIDANAN
BHAKTI ASIH
KaryaTulisIlmiah, April-Mei 2012
Kartika Nurpadilah
GAMBARAN KARAKTERISTIK IBU
BERSALIN DENGAN BAYI BERAT LAHIR RENDAH
DI RSIA AULIA JAKARTA SELATAN PADA TAHUN 2011
ABSTRAK
Asfiksia adalah keadaan dimana bayi baru lahir tidak
dapat bernafas secara spontan dan teratur (Prawirohardjo, 2009). Berdasarkan data
WHO (World Health Organization),
setiap tahunnya kira-kira
3% (3,6 juta) dari 120 juta bayi baru lahir mengalami asfiksia,
hampir satu juta bayi ini meninggal. Kejadian
asfiksia di Rumah Sakit Ibu dan Anak Aulia Jakarta pada tahun
2010 yaitu sebanyak 27
kasus dari 1060 seluruh persalinan dan pada tahun 2011
kejadian asfiksia 35 dari 1180
seluruh persalinan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran karakteristik ibu bersalin dengan bayi asfiksia di RSIA
Aulia Jakarta Selatan pada tahun 2011. Desain penelitian menggunakan analisa univariat dengan
metode penelitian deskriptif melalui pendekatan cross sectional.
Populasi dalam penelitian ini yaitu seluruh ibu
bersalin dengan bayi asfiksia di RSIA AULIA Jakarta Selatan periode
Januari-Desember 2011 sebanyak 35 orang. Pengumpulan
data menggunakan study dokumentasi memakai data sekunder melalui catatan medis
yang ada di RSIA Jakarta Selatan tahun 2011. Analisa
data yang digunakan adalah analisa univariat. Pada penelitian ini terdapat 4
variabel yang diteliti. Berdasarkan
umur ibu, ibu yang berumur 20-35 tahun terbanyak yaitu sebanyak 14 orang (40%). Berdasarkan
umur kehamilan, ibu dengan kehamilan preterm terbanyak yaitu sebanyak 15 orang
(42,9%). Berdasarkan
anemia, ibu dengan anemia ringan terbanyak yaitu sebanyak 16 orang (45,7%). Berdasarkan
partus lama, ibu yang tidak mengalami partus lama terbanyak yaitu sebanyak 20
orang (57,1%). Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan kepada RSIA
Aulia Jakarta Selatan lebih meningkatkan mutu pelayanan terutama pada pelayanan
kesehatan ibu dan anak.
Kata Kunci : Bayi Asfiksia
Daftar Pustaka : 10 buku tahun 2006-2012
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pelayanan kesehatan neonatal
dimulai sebelum bayi dilahirkan,
melalui pelayanan kesehatan yang diberikan kepada ibu hamil. Pertumbuhan dan perkembangan bay iperiode
neonatal merupakan periode yang
paling kritis karena dapat menyebabkan kesakitan dan kematian (Saifuddin,
2006).
Asfiksia adalah keadaan dimana bayi baru lahir tidak dapat bernafas spontan dan teratur setelah lahir. Asfiksia atau gagal nafas dapat menyebabkan suplai oksigen ke tubuh menjadi terhambat jika terlalu lama membuat bayi menjadi koma, walaupun sadar dari koma bayi akan mengalami cacat otak.
Pada awal asfiksia,
darah lebih banyak dialirkan ke otak dan jantung, dengan adanya hipoksia dan asidosis maka fungsi miokardium menurun, curah jantung menurun dan aliran darah kealat-alat vital juga berkurang (Saifuddin, 2006).
Kejadian asfiksia jika berlangsung terlalu lama dapat menimbulkan perdarahan otak, kerusakan otak dan kemudian keterlambatan tumbuh kembang (Saifuddin, 2006).
Berdasarkan data WHO (World Health
Organization), setiap tahunnya kira-kira 3% (3,6 juta) dari 120 juta bayi baru lahir mengalami asfiksia, hampir satu juta bayi ini meninggal. Angka kematian bayi di
Indonesia sebanyak 47% meninggal pada masa
neonatal (usia di bawah 1 bulan). Setiap 5 menit terdapat satu neonatus yang meninggal. Penyebab kematian neonatal di Indonesia yaitu asfiksia sebesar (27%)
(DepkesRI, 2007).
Angka kematian bayi berhasil
diturunkan dari sebesar 35/1000 kelahiran hidup pada tahun 2004 menjadi
29,4/1000 kelahiran hidup pada tahun 2005. Kemudian turun menjadi 28,1/1000
kelahiran hidup pada tahun 2006 dan turun lagi menjadi 26,9/1000 kelahiran
hidup pada tahun 2007. Angka yang berhasil diraih sampai dengan tahuun 2007
tersebut menunjukan bahwa sasaran AKB pada tahun 2009 yaitu 26/1000 kelahiran
hidup (Depkes RI, 2008).
Kejadian asfiksia di
Rumah Sakit Ibu dan Anak Aulia Jakarta pada tahun 2010 yaitu sebanyak 27 kasus dari 1060 seluruh persalinan dan pada tahun 2011 kejadian asfiksia 35 dari 1180 seluruh persalinan.
(Register RSIA Aulia, 2011).
Faktor yang diketahui menjadi penyebab terjadinya asfiksia neonatus yaitu faktor ibu yang meliputi preeklampsi dan eklampsi,
perdarahan abnormal, kehamilan lewat waktu, anemia, partus lama atau partus macet dan infeksi berat. Faktor tali pusat meliputi lilitan tali pusat,
tali pusat pendek, simpul tali
pusat, dan prolapsus tali pusat. Faktor bayi meliputi bayi premature yaitu sebelum
37 minggu kehamilan, persalinan dengan tindakan meliputi sungsang, ekstraksi vakum, ekstraksi forsep, kelainan bawaan dan air ketuban bercampur mekonium
(Affandi, 2007).
Berdasarkan uraian latar
belakang diatas maka penulis ingin melakukan penelitian tentang “Gambaran Karakteristik Ibu Bersalin Dengan Bayi Asfiksia
Di RSIA Aulia Jakarta Selatan Pada Tahun 2011”.
B. Rumusan Masalah
Dalam kasus ini asfiksia
merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap kematian bayi. Berdasarkan
latar belakang masalah yang telah diuraikan diatas, maka rumusan masalahnya
adalah adanya peningkatan kejadian asfiksia dari tahun 2010 yaitu sebanyak 27
kasus dari 1060 seluruh persalinan dan pada tahun 2011 kejadian asfiksia sebanyak
35 kasus dari 1180 seluruh
persalinan. Faktor yang mempengaruhi diantaranya umur ibu,
umur kehamilan, anemia dan, partus lama. Dengan demikian perlu diteliti penyebab angka kejadian ibu bersalin
dengan bayi asfiksia di RSIA AULIA
tahun 2011.
C. Pertanyaan penelitian
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan
diatas maka pertanyaan penelitiannya yaitu bagaimana gambaran karakteristik ibu bersalin dengan bayi asfiksia di
RSIA Aulia Jakarta Selatan pada tahun
2011.
D.
TujuanPenelitian
1.
TujuanUmum
Untuk mengetahui gambaran karakteristik ibu bersalin dengan bayi asfiksia di
RSIA Aulia Jakarta Selatan pada tahun 2011.
2.
TujuanKhusus
a.
Mengetahui jumlah ibu bersalin dengan bayi asfiksia
di RSIA Aulia Jakarta Selatan
pada tahun 2011.
b.
Mengetahui
gambaran karakteristik ibu
bersalin dengan bayi asfiksia berdasarkan umur ibu di RSIA Aulia Jakarta Selatan pada tahun 2011.
c.
Mengetahui
gambaran karakteristik ibu
bersalin dengan bayi asfiksia berdasarkan umur kehamilan ibu di
RSIA Aulia Jakarta Selatan pada tahun 2011.
d.
Mengetahui
gambaran karakteristik ibu bersalin dengan bayi asfiksia berdasarkan anemia di
RSIA Aulia Jakarta Selatan pada tahun 2011.
e.
Mengetahui
gambaran karakteristik ibu bersalin dengan bayi asfiksia berdasarkan partus
lama di RSIA Aulia Jakarta Selatan pada tahun 2011.
E. Manfaat Penelitian
Dengan dilakukannya penelitian
ini, maka akan diketahui Gamabaran Karakteristik Ibu Bersalin Dengan Bayi
Asfiksia Di RSIA Aulia Jakarta Selatan Pada Tahun 2011. Sehingga hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi:
1.
Instansi Pendidikan
Dapat digunakan sebagai bahan pengembangan materi, menambah referensi dan bahan bacaan khususnya tentang karakteristik bayi baru lahir dengan asfiksia serta sebagai bahan dokumentasi.
2.
RSIA Aulia Jakarta Selatan
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan informasi dan masukan untuk mengetahui lebih jelas tentang karakteristik bayi
baru lahir dengan asfiksia dan untuk meningkatkan pelayanan kepada
masyarakat khususnya ibu bersalin dan bayi baru lahir dengan asfiksia.
3.
Peneliti
Peneliti dapat mengetahui lebih jelas tentang karakteristik bayi
baru lahir dengan asfiksia dan menambah wawasan serta ilmu pengetahuan.
4.
Mahasiswa
Sebagai bahan yang dapat dijadikan perbandingan dan pertimbangan untuk melakukan penelitian-penelitian lebih lanjut.
F. Ruang Lingkup
Ruang lingkup dari penelitian ini yaitu tentang
Gambaran Karakteristik Ibu Bersalin Dengan Bayi Asfiksia Di RSIA Aulia Jakarta
Selatan Pada Tahun 2011. Penelitian ini dilakukan pada bulan April-Mei 2012.
Variabel independent yang diteliti dalam penelitian ini meliputi umur ibu, umur
kehamilan, anemia, dan partus lama. Sedangkan variabel dependent dalam
penelitian ini adalah ibu bersalin dengan bayi asfiksia. Penelitian ini
merupakan penelitian deskriptif. Data diperoleh dari data sekunder
yaitu dengan melihat dari data status pasien dengan kejadian asfiksia di RSIA
Aulia Jakarta Selatan pada tahun 2011. Cara pengambilan sampel dengan
menggunakan daftar cheklist yaitu seluruh populasi dijadikan sampel penelitian.
Analisa yang digunakan pada penelitian ini yaitu menggunakan analisa univariat.
.BAB
II
TINJAUAN PUSTAKA
A.
Konsep Dasar
Asfiksia adalah keadaan dimana bayi baru lahir tidak
dapat bernafas secara spontan dan teratur (Prawirohardjo, 2009).
Asfiksia adalah suatu keadaan bayi baru lahir yang
mengalami kegagalan bernafas secara spontan dan teratur segera setelah lahir
(JNPK-KR, 2008).
Dari sumber lain menyebutkan asfiksia adalah keadaan bayi
baru lahir tidak bernafas secara spontan dan teratur, sering kali bayi yang
sebelumnya mengalami gawat janin akan asfiksia sesudah persalinan. Ada pula
dari sumber lain menyebutkan bahwa
asfiksia neonatorum adalah keadaan bayi yang tidak dapat bernafas secara
spontan dan teratur, sehingga dapat menurunkan O2 dan meningkatkan
CO2 yang menimbulkan akibat buruk bagi kehidupan lebih lanjut
(Manuaba, 2007).
Asfiksia
neonatorum adalah keadaan dimana
bayi
tidak dapat segera bernafas
secara spontan dan teratur setelah lahir (Sarwono,2007).
B. Klasifikasi
Beberapa literatur mengklasifikasikan atau menggolongkan
asfiksia neonatorum dalam referensi Hidayat (2008), sebagai berikut:
1. Atas dasar pengalamn klinis asfiksia neonatorum dibagi
dalam:
a.
Vigorus baby (asfiksia ringan), nilai apgar 7-10. Dalam hal ini bayi dianggap sehat dan
tidak memerlukan tindakan istimewa.
b.
Mild moderate asphyxia (asfiksia sedang), nilai apgar 4-6. Pada pemeriksaan
fisik akan terlihat frekuensi jantung lebih dari 100 kali/menit, tonus otot
kurang baik, sianosis, refleks iritabilitas tidak ada.
c.
Asfiksia
berat, nilai apgar 0-3. Pada pemeriksaan fisik ditemukan frekuensi jantung
kurang dari 100 kali/menit, tonus otot buruk, sianosis berat dan kadang-kadang
pucat, refleks iritabilitas tidak ada. Pada asfiksia dengan henti jantung yaitu
bunyi jantung fetus menghilang tidak lebih dari 10 menit sebelum lahir lengkap.
2.
Ada
juga yang mengklasifikasikan asfiksia neonatorum menurut ringan beratnya, yaitu
bebang bayi asfiksia neonatorum dibagi dalam dua tingkat sebagai berikut:
a.
Asfiksia
livida (bebang biru), dengan gejala warna klit kebiru-biruan, tonus otot cukup
tegang dan denyut jantung cukup kuat lebih dari 100 kali/menit.
b.
Asfiksia
palida (bebang putih), dengan gejala warna kulit putih, tonus otot lemas dan
denyut jantung kurang dari 100 kali/menit.
Namun saat ini, derajat ringan beratnya bebang bayi
(asfiksia neonatorum) lebih tepat dinilai dengan cara penelitian menurut apgar.
Setelah dilahirkan 1 menit diperiksa keadaan denyut jantung, pernafasan, tonus
otot, refleks pengisapan dan warna kulit dinilai menurut apgar, yang kemudian
ditentukan dengan menunjukan nilai-nilai apgar tersebut.
C.
Etiologi
Beberapa kondisi tertentu pada ibu hamil dapat
menyebabkan gangguan sirkulasi darah utero plasenta sehingga pasokan oksigen ke
bayi menjadi berkurang. Hipoksia bayi dalam rahim ditunjukan dengan gawat janin
yang dapat berlanjut menjadi asfiksia pada bayi baru lahir.
Dalam referensi JNPK-KR (2008), beberapa faktor tertentu
diketahui dapat menjadi penyebab terjadinya asfiksia pada bayi baru lahir,
diantaranya adalah faktor ibu, faktor tali pusat, dan faktor bayi berikut ini:
1. Faktor ibu
a.
Gangguan
HIS
b.
Preeklamsi
dan eklamsi
c.
Perdarahan
abnormal (plasenta previa atau solusio plasenta)
d.
Anemia
e.
Partus
lama atau partus macet
f.
Demam
selama persalinan
g.
Infeksi
berat (malaria, sifilis, TBC, HIV)
h.
Kehamilan
lewat waktu (lebih dari 42 minggu)
2. Faktor tali pusat
a.
Lilitan
tali pusat
b.
Tali
pusat pendek
c.
Simpul
tali pusat
d.
Prolaps
tali pusat
3.
Faktor
bayi
a.
Bayi
prematur (sebelum 37 minggu kehamilan)
b.
Persalinan
dengan tindakan (sungsang, bayi kembar, distosia bahu, ekstrasi vakum, ekstrasi
forcep)
c.
Kelainan
bawaan (kongenital)
d.
Air
ketuban bercampur mekonium
D.
Tanda dan Gejala
Dalam referensi (Ilmu Kesehatan Anak, 2006)
1. Hipoksia
2. Respirasi > 60 kali/menit atau < 30 kali/menit
3. Nafas megap-megap/gasping sampai dapat terjadi henti
nafas
4. Bradikardia
5. Tonus otot berkurang
6. Warna kulit sianosis/pucat
E.
Komplikasi
Komplikasi
menurut Hidayat
(2008)
1. Hipoksia
2. Hipotermi
3. Infeksi
saluran pernafasan akut (ISPA)
4. Prematuritas
5. Gangguan
perdarahan otak
F.
Menejemen Therapi
Tindakan untuk mengatasi asfiksia neonatorum disebut
resusitasi bayi baru lahir yang bertujuan untuk mempertahankan kelangsungan
hidup bayi. Tindakan resusitasi bayi baru lahir mengikuti tahapan-tahapan yang
dikenal dengan ABC resusitasi:
A (Memastikan saluran nafas terbuka)
1. Meletakan bayi dalam posisi yang benar
2. Menghisap mulut, hidung, dan kadang-kadang trekea
3. Bila perlu masukan pipa endotraktil (pipa ET) untuk
memastikan saluran nafas terbuka
B (memulai pernafasan)
1. Memakai rangsangan traktil untuk memulai pernafasan
2. Bila perlu memakai ventilasi tekanan positif
C (mempertahankan sirkulasi darah)
1. Rangsang dan pertahankan sirkulasi darah dengan cara
kompresi dada dan pengobatan (Saifudin, 2006)
G.
Cara Penatalaksanaan Bayi Dengan Asfiksia
1.
Asfiksia
ringan apgar skor 7-10, cara mengatasinya:
a.
Bayi
dibungkus dengan kain hangat
b.
Bersihkan
jalan nafas dengan menghisap lendir pada hidung kemudian mulut
c.
Bersihkan
dada dan tali pusat
d.
Lakukan
observasi tanda-tanda vital, pantau apgar skor dan masukan dalam inkubator
2.
Asfiksia
sedang apgar skor 4-6, cara mengatasinya:
a.
Bersihkan
jalan nafas
b.
Berikan
oksigen 2 liter/menit
c.
Rangsang
pernafasan dengan menepuk telapak kaki
d.
Apabila
belum ada reaksi bantu pernafasan dengan ambubag
e.
Bila
bayi sudah mulai bernafas tetaoi masih sianosis berikan natrium bukarbonat 7,5%
sebanyak 6 CC, selanjutnya berikan dekstrose 40% sebanyak 4 CC disuntikan
melalui vena umbilikus secara perlahan-lahan
3.
Asfiksia
berat apgar skor 0-3, cara
mengatasinya:
a.
Bersihkan
jalan nafas sambil pompa ambubag
b.
Berikan
oksigen 4-5 liter/menit
c.
Bila
tidak berhasil lakukan pemasangan ETT (endrotrekeal tube)
d.
Bersihkan
jalan nafas melalui ETT
e.
Apabila
bayi sudah mulai bernafas tetapi masih sianosis, berikan natrium bikarbonat
7,5% sebanyak 6 CC, selanjutnya berikan dekstrose sebanyak 4 CC disuntikan
melaui vena umbilikus secara perlahan-lahan (Hidayat, 2008).
H.
Pemeriksaan Penunjang
Beberapa
pemeriksaan penunjang yang mengarah pada pada diagnosa Asfiksia Neonatorum
antara lain :
1.
Analisa gas darah
pH (normal 7,36-7,44).
Kadar pH cenderung turun terjadi asidosis metabolik. PCO2 (normal 35-45 mmHg) kadar PCO2 pada
bayi Asfiksia Neonatorum cenderung naik sering terjadi hiperapnea. PO2 (normal 75-100 mmHg), kadar PO2 pada
bayi Asfiksia Neonatorum cenderung turun karena terjadi hipoksia progresif. HCO3 (normal 24-28 mEq/L)
2.
Elektrolit darah
Leukositnya lebih dari
10,3 x 10 gr/ct (normal 4,3-10,3 x 10 gr/ct) karena bayi preterm imunitas masih
rendah sehingga resiko tinggi. Trombosit
(normal 350 x 10 gr/ct). Distrosfiks
pada bayi preterm dengan Asfiksi Neonatorum cenderung turun karena sering
terjadi hipoglikemi.
3.
Gula darah
4.
Baby gram (Rontgen dada)
Pulmonal
tidak tampak gambaran, jantung ukuran normal.
5.
USG (kepala) (Hidayat,2008)
I.
Penilaian Apgar Score
Keadaan umum bayi dinilai satu menit pertama setelah bayi lahie dengan
penggunaan nilai apgar. Penilaian secara apgar ini mempunyai
hubungan yang bermakna dengan mortalitas bayi baru lahir untuk mengetahui apakah bayi menderita asfiksia atau
tidak. Yang dinilai adalah:
1.
Frekuensi
jantung (heart rete)
2.
Usaha
nafas (resfiratory effort)
3.
Tonus
otot (muscle tone)
4.
Warna
kulit (colour)
5.
Reaksi
terhadap rangsang (response to stimuli)
Tabel 2.1
Nilai
Apgar (NA)
Penilaian
|
0
|
1
|
2
|
NA
|
Appearance
(warna
kulit )
|
Pucat
|
Badan
merah, ekstremitas biru
|
Seluruh
tubuh kemerah – merahan
|
|
Pulse
rate (Frekuensi nadi)
|
Tidak
ada
|
Kurang
dari 100
|
Lebih
dari 100
|
|
Grimance
(reaksi rangsangan)
|
Tidak
ada
|
Sedikit
gerakan mimik (grimance)
|
Batuk
/ bersin
|
|
Acivity (tonus otot)
|
Tidak ada
|
Ekstremitas dalam sedikit
fleksi
|
Gerakan aktif
|
|
Respiration (pernafasan)
|
Tidak
ada
|
Lemah
/ tidak teratur
|
Baik /
menangis
|
|
Jumlah
|
||||
(Rachma Fazwa Budjang, 2006)
Nilai apgar ini
biasanya dimulai satu menit setelah bayi lahir lengkap dan bayi telah diberi
lingkungan yang baik serta pengisapan lendir telah dilakukan dengan sempurna.
Nilai apgar semenit pertama ini baik sekali sebagai pedoman untuk menentukan
cara resusitasi. Mulai apgar berikutnya dimulai lima menit setelah bayi lahir
dan ini berkorelasi erat dengan kematian dan kesakitan neonatus. Dalam
menghadapi bayi dalam asfiksia
berat, dianjurkan untuk menilai secara tepat, yaitu: menghitung frekuensi
jantung dengan cara meraba hipisternum atau arteri tali pusat dan menentukan
apakah jumlah lebih atau kurang dari 100 kali/menit,
menilai tonus otot baik/buruk, melihat warna kulit.
J.
Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Asfiksia
Adapun faktor-faktor yang berhubungan secara tidak
langsung terhadap kejadian asfiksia neonatorum adalah:
1.
Umur ibu
Dimana umur ibu berpengaruh terhadap proses reproduksi,
usia aman untuk kehamilan dan persalinan adalah usia 20-35 tahun. Kehamilan
pada remaja lebih tinggi penyulitnya disebabkan belum matangnya alat reproduksi
untuk hamil sehingga dapat mempengaruhi kesehatan ibu dan janin. Wanita diatas
35 tahun 2 kali lebih rawan dibandingkan pada wanita berusia 20 tahun untuk
menderita tekanan darah tinggi dan resiko terhadap bayi yang lahir kemungkinan
menjadi berat badan lahir rendah yang sangat rentan terhadap asfiksia pada bayi baru lahir
(Sarwono, 2007).
2.
Umur kehamilan
Masa
kehamilan dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin. Lamanya hamil normal
adalah 280 hari (40 minggu atau 9 bulan lebih 7 hari) dihitung dari hari
pertama haid terakhir (Saifuddin, 2006). Umur kehamilan dibagi menjadi:
a.
Preterm
Persalinan
yang terjadi dibawah umur kehamilan 37 minggu dengan perkiraan berat janin
kurang dari 2500 gram. Resiko melahirkan preterm adalah tingginya angka
kematian, disamping itu dapat terjadi pertumbuhan mental dan fisik yang kurang
menguntungkan. Makin rendah berat badan lahir, semakin tinggi kejadian
morbiditas dan mortalitas. Bayi prematur sering mengalami gangguan pernafasan,
perkembangan paru-paru yang belum sempurna dan otot-otot pernafasan yang masih
lemah juga tulang iga yang mudah melengkung.
b.
Aterm
Umur
kehamilan atau umur gestasi dimulai sejak terjadinya konsepsi hingga lahirnya
janin. Yang dimaksud dengan umur kehamilan aterm yaitu apabila umur kehamilan
diantara 37-42 minggu atau bayi dengan berat badan 2500 gram atau lebih.
Kehamilan dengan cukup bulan dapat meminimalkan persalinan dengan resiko yang
dapat terjadi. Hal tersebut karena sudah terjadi kematangan bentuk fisik janin
dan mempunyai dampak potensial mengurangi kematian bayi.
c.
Postterm
Kehamilan
lewat waktu merupakan kehamilan yang melebihi 42 minggu. Permasalahan kehamilan
lewat waktu ini plasenta tidak dapat memberikan nutrisi serta pertukaran O2 dan CO2, sehingga
janin mempunyai resiko asfiksia sampai kematian (Prawirohardjo, 2009).
3.
Anemia
Anemia adalah kondisi ibu dengan kadar haemoglobin (Hb)
dalam darahnya kurang dari 12 gr% (Wiknjosastro, 2006).
Sedangkan anemia dalam kehamilan adalah kondisi
ibu dengan kadar haemoglobin dibawah 11 gr% pada trimester I dan III atau kadar
<10,5 gr% pada trimester II (Saifuddin, 2007).
a.
Gejala
anemia pada ibu
Gejala anemia pada kehamilan yaitu ibu mengeluh
cepat lelah, sering pusing, mata berkunang-kunang, nafsu makan turun
(anoreksia), konsentrasi hilang, dan keluhan mual muntah lebih hebat pada hamil
muda.
b.
Tingkat
anemia
Anemia kehamilan menurut WHO
digolongkan menjadi :
1)
Anemia berat (Hb<7 gr%)
2)
Anemia sedang (Hb 7-8 gr%)
3)
Anemia ringan (Hb 9-10 gr%)
4)
Tidak anemia (Hb 11 gr%)
Anemia
bumil di Indonesia sangat bervariasi ,yaitu:
1)
Hb 11 gr% : normal
2)
Hb 9-10 gr% : anemia ringan
3)
Hb 7 – 8 gr%: anemia sedang
4)
Hb < 7 gr% : anemia berat (Manuaba, 2007)
c.
Efek
anemia
Anemia
dapat terjadi pada setiap ibu hamil, karena itulah kejadian ini harus selalu
diwaspadai. Anemia yang terjadi saat ibu hamil trimester I akan dapat
mengakibatkan: abortus dan kelainan kongenital. Anemia pada kehamilan trimester
II dapat mengakibatkan: persalinan prematur, perdarahan antepartum, gangguan
pertumbuhan janin dalam rahim, asfiksia intrauterin sampai kematian, BBLR,
gestosis, mudah terkena infeksi, IQ rendah dan bahkan bisa mengakibatkan
kematian. Saat inpartu anemia dapat menimbulkan gangguan his, baik primer
maupun sekunder, janin akan lahir anemia, dan persalinan dengan tindakan yang
disebabkan karena ibu cepat lelah. Saat postpartum anemia dapat mengakibatkan:
atonia uteri, retensio plasenta, perlukaan sukar sembuh, mudah terjadi febris puerpuralis,
dan gangguan involusi uteri (Mochtar, 2008).
d.
Pencegahan
anemia
Saat ini program nasional menganjurkan
kombinasi 60 mg besi dan 50 nanogram asam folat untuk profilaksis anemia
(Saifuddin, 2007). Anemia dapat dicegah dengan mengkonsumsi
makanan bergizi seimbang dengan asupan zat besi yang cukup untuk memenuhi
kebutuhan tubuh. Zat besi dapat diperoleh dengan cara mengkonsumsi daging
(terutama daging merah) seperti sapi. Zat besi juga dapat ditemukan pada
sayuran berwarna hijau gelap seperti bayam dan kangkung, buncis, kacang polong,
serta kacang-kacangan. Perlu diperhatikan bahwa zat besi yang terdapat pada
daging lebih mudah diserap tubuh daripada zat besi pada sayuran atau pada
makanan olahan seperti sereal yang diperkuat dengan zat besi (Wiknjosastro, 2006).
4.
Partus lama
a.
Fase
laten yang memanjang
Dapat
disebabkan beberapa faktor antara lain: kecemasan dan ketakutan pemebrian
analgetik yang kuat atau pemebrian analgetik yang terlalu cepat pada
persalinan, abnormalitas pada gangguan panggul, dan kelainan pada letak dan
bentuk janin.
b.
Fase
aktif yang memanjang pada primigravida
Pada
primigravida fase aktif yang lebih panjang dari 12 jam merupakan keadaan
abnormal. Pemanjangan fase aktif menyertai malposisi, disproporsi, fetopelvic,
penggunaan sedative dan analgesik serta ketuban pecah sebelum dimulainya
persalinan.
c.
Partus
lama pada kala II
Dimana
servik mencapai dilatasi penuh, jangka waktu sampai terjadinya kelahiran tidak
boleh melampaui 2 jam pada primigravida dan 1 jam pada multigravida. Setelah batas
waktu ini morbiditas maternal dan neonatal akan meningkat. Bahaya partus lama,
yaitu:
1)
Bagi
ibu
Terdapat
kenaikan pada insiden atonia uteri, laserasi, perdarahan, infeksi, kelelahan
ibu dan shock. Kelahiran dengan tindakan yang tinggi semakin memperburuk
keadaan ibu.
2)
Bagi
janin
Semakin
lama persalinan semakin tinggi morbilitas janin dan sering terjadi asfiksia
akibat partus lama. Sekali pun tidak terdapat kerusakan yang nyata, bayi pada
partus lama memerlukan perawatan yang khusus. Bahaya partus lama lebih besar
lagi apabila kepala bayi macet di perineum untuk waktu yang lama dan tengkorak
kepala janin terus terbentur pada panggul ibu. Partus lama kala II, bradikardia
janin kadang terjadi ketika ibu menahan nafas dalam waktu lama, dan usaha
mengejan ibu dapat meningkatkan tekana terhadap kepala janin. Efek pada janin
mengakibatkan oksigen dalam darah turun dan aliran darah ke plasenta menurun sehingga oksigen yang
tersedia untuk janin menurun, pada akibatnya dapat menimbulkan hipoksia janin
(Prawirohardjo, 2006).
K. Kerangka
Teori
Bagan
2.1
Kerangka Teori
|
|||||
![]() |
|||||
|
|||||
BAB
III
KERANGKA
KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL
A.
Kerangka
Konsep
Kerangka
konsep adalah suatu hubungan atau kaitan antara konsep satu terhadap konsep
yang lain dari masal yang ingin diteliti (Notoatmodjo, 2006). Berdasarkan judul
penelitian tentang Gambaran Karakteristik Ibu Bersalin Dengan Bayi Asfiksia Di
RSIA AULIA Jakarta Selatan Pada Tahun 2011, variable yang dimasukan kedalam
kerangka konsep merupakan variable yang dinilai dalam pelaksanaan penelitian
nantinya. Susunan kerangka konsep penelitian ini dapat dilihat sebagai berikut:
Bagan 3.1
Kerangka
Konsep
Variabel
Independent Variabel Dependen
|
|||
B.
Definisi
Opersional
Definisi operasional adalah
penjabaran secara mendetail mengenai variabel penelitian.
Tabel 3.1
Definisi
Opersasional
No
|
Variabel
|
Definisi
Opersional
|
Cara ukur
|
Alat Ukur
|
Skala
Ukur
|
Hasil ukur
|
Variabel
Dependent
|
||||||
1.
|
Asfiksia
|
Asfiksia
adalah keadaan dimana bayi baru lahir tidak dapat bernafas secara spontan dan
teratur.
|
Checklist
|
Data
status pasien
|
Ordinal
|
1.
Asfiksia ringan
2.
Asfiksia sedang
3.
Asfiksia berat
|
Variabel
Independent
|
||||||
2.
|
a. Umur ibu
|
Umur dalam kurun
reproduksi sehat dikenal bahwa usia aman untuk kehamilan dan persalinan
adalah 20 – 30 tahun. Usia adalah lama waktu hidup sejak dilahirkan.
|
Checklist
|
Data
status pasien
|
Ordinal
|
1.
< 20 thn
2.
20-35 thn
3.
> 35 thn
|
b.
Umur kehamilan
|
Masa
kehamilan dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin. Lamanya hamil normal
adalah 280 hari (40 minggu atau 9 bulan lebih 7 hari) dihitung dari hari
pertama haid terakhir.
|
Checklist
|
Data
status pasien
|
Ordinal
|
1.
Preterm
2.
Aterm
3.
Postterm
|
|
c.
Anemia
|
Sedangkan
anemia dalam kehamilan adalah kondisi ibu dengan kadar haemoglobin dibawah 11
gr% pada trimester I dan III atau kadar <10,5 gr% pada trimester II.
|
Checklist
|
Data
status pasien
|
Ordinal
|
1.
Anemia ringan
2.
Anemia sedang
3.
Anemia berat
|
|
d.
Partus lama
|
Dimana
servik mencapai dilatasi penuh, jangka waktu sampai terjadinya kelahiran
tidak boleh melampaui 2 jam pada primigravida dan 1 jam pada multigravida.
|
Checklist
|
Data
status pasien
|
Ordinal
|
1.
Ya
2.
Tidak
|
|
BAB IV
METODELOGI PENELITIAN
A.
Design Penelitian
Dalam melakukan
penelitian ini penulis menggunakan analisa univariat dengan metode penelitian
deskriptif melalui pendekatan cross sectional dimana data yang menyangkut
variabel independent atau risiko dan variabel dependent atau variabel akibat
akan dikumpulkan dalam waktu yang bersamaan. Penelitian ini dilakukan dengan
melihat data status pasien baru
lahir di
RSIA AULIA Jakarta Selatan.
B.
Tempat
dan Waktu Penelitian
Dalam melakukan
penelitian ini penulis akan melakukan penelitian di RSIA AULIA Jakarta Selatan,
adapun waktu pelaksanaannya dimulai sejak
bulan April sampai dengan bulan Mei tahun
2012.
C.
Populasi
dan Sampel
1.
Populasi
Populasi adalah
keseluruhan objek penelitian (Notoatmodjo, 2006). Populasi
dalam penelitian ini yaitu seluruh
ibu bersalin dengan bayi asfiksia di RSIA AULIA Jakarta
Selatan periode
Januari-Desember 2011 sebanyak 35
orang.
2.
Sampel
Sampel
dalam penelitian ini adalah data total
sampling dari seluruh
populasi. Mengingat jumlah populasi sebanyak 35 maka jumlah sampel yang diambil
35 bayi.
D.
Teknik
Pengumpulan Data
Data yang diperoleh
pada penelitian ini berasal dari data sekunder dengan menggunakan data status pasien
di RSIA Aulia Jakarta Selatan tahun 2011. Cara pengambilan data diperoleh
dengan pengamatan tidak langsung atau pencacatan dari data status pasien yang
sudah ada sesuai dengan kebutuhan penelitian. Adapun cara dan alat pengumpulan
data adalah sebagai berikut:
1.
Cara
Pada penelitian ini teknik pengumpulan data yang
digunakan yaitu dengan menggunakan study dokumentasi memakai data sekunder melalui
catatan medis yang ada di RSIA Jakarta Selatan tahun 2011.
2.
Alat
Pada penelitian ini
alat yang digunakan untuk memperoleh data ibu bersali dengan bayi asfiksia yang
ada di RSIA Aulia Jakarta Selatan tahun 2011 yaitu dengan menggunakan format
data/ daftar checklist.
E.
Pengolahan
Data
Pada penelitian ini, peneliti melakukan pengumpulan data
dan selanjutnya melakukan pengolahan data dengan menggunakan komputerisasi
melaui tahap-tahap sebagai berikut:
1.
Editing
Setelah
data dikumpulkan, langkah selanjutnya adalah langkah awal dari pengolahan data
yaitu editing, tahap ini adalah tahap pemeriksaan kelengkapan data yang telah
terkumpul, sehingga data yang diolah adalah data yang memenuhi kriteria yang
telah ditetapkan.
2.
Coding
Tahap
selanjutnya dalam pengolahan data setelah tahap editing adalah coding yaitu
merupakan tahap dimana data-data yang sudah memenuhi kriteria yang sudah
ditetapkan diolah dengan pemberian kode pada setiap item pertanyaan, yaitu
mengubah karakter jawaban kedalam bentuk angka dengan tujuan untuk mempermudah
pengolahan data.
3.
Entry data
Setelah
data melalui tahap coding, tahap selanjutnya dalam pengolahan data adalah entry
data, dimana data tersebut diolah dengan menggunakan sistem komputerisasi.
4.
Cleanning
Setelah
data dimasukan maka selanjutnya dilakukan pengecekan apakah data yang masuk
lengkap atau tidak dengan cara melihat data dalam bentuk distribusi frekuensi
dan melihat konsistensi antar variabel.
F.
Analisa Data
Setelah data yang diperolah menjadi satu data yang sudah
tepat dan konsisten selanjutnya dilaksanakan analisa untuk menjawab
pertanyaan-pertanyaan penelitian dengan menggunakan analisa data. Analisa data
yang digunakan adalah analisa univariat yaitu dengan menampilkan tabel-tabel frekuen
BAB V
HASIL PENELITIAN
A.
Analisa
Univariat
Penelitian
ini bertujuan untuk mengetahui Gambaran Karakteristik Ibu Bersalin Dengan Bayi
Asfiksia Di RSIA Aulia Jakarta Selatan Pada Tahun 2011. Populasi yang diambil
dalam penelitian ini adalah seluruh ibu bersalin dengan bayi asfiksia yang
berjumlah 35 orang.
Berikut
adalah gambaran karakteristik yang mempengaruhi kejadian ibu bersalin dengan
bayi asfiksia di RSIA Aulia Jakarta Selatan tahun 2011 dan variabel yang
diteliti diantaranya adalah umur ibu, umur kehamilan, anemia, dan partus lama.
Hasil dari gambaran distribusi frekuensi variabel yang diteliti dapat dilihat
pada tabel berikut ini:
1.
Kejadian
Asfiksia
Tabel 5.1
Distribusi Gambaran Karakteristik Ibu
Bersalin Dengan Bayi Asfiksia Di RSIA Aulia Jakarta selatan Pada Tahun 2011
No
|
Jenis
asfiksia
|
Frekuensi
|
Presentase
(%)
|
1.
|
Asfiksia
ringan
|
13
|
37,1
|
2.
|
Asfiksia
sedang
|
14
|
40
|
3.
|
Asfiksia
berat
|
8
|
22,9
|
Total
|
35
|
100
|
|
Grafik 5.1
Distribusi Gambaran Karakteristik Ibu
Bersalin Dengan Bayi Asfiksia Di RSIA Aulia Jakarta selatan Pada Tahun 2011

Berdasarkan Tabel 5.1 diperoleh bahwa
ibu bersalin dengan bayi asfiksia sedang terbanyak yaitu 14 orang (40%),
asfiksia ringan sebanyak 13 orang (37,1%), dan asfiksia berat sebanyak 8 orang
(22,9 %).
2.
Umur
Ibu
Tabel 5.2
Distribusi Gambaran Karakteristik Ibu
Bersalin Dengan Bayi Asfiksia Berdasarkan Umur Ibu Di RSIA Aulia Jakarta
Selatan
Pada Tahun 2011
No
|
Umur Ibu
|
Frekuensi
|
Presentase
(%)
|
1.
|
<
20 tahun
|
11
|
31,4
|
2.
|
20-30
tahun
|
14
|
40
|
3.
|
>
35 tahun
|
10
|
28,6
|
Total
|
35
|
100
|
|
Grafik 5.2
Distribusi Gambaran Karakteristik Ibu
Bersalin Dengan Bayi Asfiksia Berdasarkan Umur Ibu Di RSIA Aulia Jakarta
Selatan
Pada Tahun 2011

Berdasarkan Tabel 5.2 diketahui bahwa
ibu yang berumur 20-35 tahun terbanyak yaitu sebanyak 14 orang (40%), yang
berumur <20 tahun sebanyak 11 orang (31, 4%), dan yang berumur >35 Tahun
sebanyak 10 orang (28,6%).
3.
Umur
Kehamilan
Tabel 5.3
Distribusi Gambaran Karakteristik Ibu
Bersalin Dengan Bayi Asfiksia Berdasarkan Umur Kehamilan Di RSIA Aulia Jakarta
Selatan
Pada Tahun 2011
No
|
Umur Kehamilan
|
Frekuensi
|
Presentase
(%)
|
1.
|
Preterm
|
15
|
42,9
|
2.
|
Aterm
|
9
|
25,7
|
3.
|
Postterm
|
11
|
31,4
|
Total
|
35
|
100
|
|
Grafik 5.3
Distribusi Gambaran Karakteristik Ibu
Bersalin Dengan Bayi Asfiksia Berdasarkan Umur Kehamilan Di RSIA Aulia Jakarta
Selatan
Pada Tahun 2011

Berdasarkan Tabel 5.3 diketahui bahwa
ibu dengan kehamilan preterm terbanyak yaitu sebanyak 15 orang (42,9%), kehamilan
postterm sebanyak 11 orang (31,4%), kehamilan aterm sebanyak 9 orang (25,7%).
4.
Anemia
Tabel
5.4
Distribusi gambaran Karakteristik Ibu
Bersalin Dengan Bayi Asfiksia Berdasarkan Anemia Di RSIA Aulia Jakarta Selatan
Pada Tahun 2011
No
|
Anemia
|
Frekuensi
|
Persentase
(%)
|
1.
|
Ringan
|
16
|
45,7
|
2.
|
Sedang
|
14
|
40
|
3.
|
Berat
|
5
|
14,3
|
Total
|
35
|
100
|
|
Grafik
5.4
Distribusi gambaran Karakteristik Ibu
Bersalin Dengan Bayi Asfiksia Berdasarkan Anemia Di RSIA Aulia Jakarta Selatan
Pada Tahun 2011

Berdasarkan Tabel 5.4 diketahui bahwa
ibu dengan anemia ringan terbanyak yaitu sebanyak 16 orang (45,7%), anemia
sedang sebanyak 15 orang (40%), dan anemia berat sebanyak 5 orang (14,3%).
5.
Partus
Lama
Tabel
5.5
Distribusi
Gambaran Karakteristik Ibu Bersalin Dengan Bayi Asfiksia Berdasrakan Partus
Lama Di RSIA Aulia Jakarta Selatan
Pada
Tahun 2011
No
|
Partus
Lama
|
Frekuensi
|
Persentase
(%)
|
1.
|
Ya
|
15
|
42,9
|
2.
|
Tidak
|
20
|
57,1
|
Total
|
35
|
100
|
|
Grafik
5.5
Distribusi
Gambaran Karakteristik Ibu Bersalin Dengan Bayi Asfiksia Berdasrakan Partus
Lama Di RSIA Aulia Jakarta Selatan
Pada
Tahun 2011

Berdasarkan
Tabel 5.5 diketahui bahwa ibu yang tidak mengalami partus lama terbanyak yaitu
sebanyak 20 orang (57,1%) dan yang mengalami partus lama sebanyak 15 orang
(42,9%).
si
untuk melihat gambaran distribusi frekuensi responden menurut berbagai variabel
yang diteliti yaitu variabel dependent dan variabel independent.
BAB VI
PEMBAHASAN
A.
Gambaran
Kejadian Ibu Bersalin Dengan Bayi Asfiksia
Berdasarkan Tabel 5.1 hasil penelitian
terhadap 35 orang ibu bersalin dengan bayi asfiksia di RSIA Aulia Jakarta
Selatan pada tahun 2011 diperoleh bahwa ibu yang bersalin dengan bayi asfiksia
sedang terbanyak yaitu 14 orang (40%).
B.
Dari
Hasil Penelitian
1.
Umur
Ibu
Berdasarkan
Tabel 5.2 dapat diketahui bahwa kasus asfiksia berdasarkan umur ibu dari jumlah populasi 35 orang ibu
bersalin di RSIA Aulia Jakarta Selatan pada tahun 2011 terbanyak yaitu pada
umur 20-35 tahun sebanyak 14 orang (40%). Menurut penelitian Nika 2010 di RSUD
Cibitung Bekasi pada tahun 2010 data terbanyak pada umur 20-35 tahun yaitu
sebanyak 27 orang (84,4%) dari 32 orang ibu bersalin dengan bayi asfiksia.
Dimana
umur ibu berpengaruh terhadap proses reproduksi, usia aman untuk kehamilan dan
persalinan adalah usia 20-35 tahun. Kehamilan pada remaja lebih tinggi
penyulitnya disebabkan belum matangnya alat reproduksi untuk hamil sehingga
dapat mempengaruhi kesehatan ibu dan janin. Wanita diatas 35 tahun 2 kali lebih
rawan dibandingkan pada wanita berusia 20 tahun untuk menderita tekanan darah
tinggi dan resiko terhadap bayi yang lahir kemungkinan menjadi berat badan
lahir rendah yang sangat rentan terhadap
asfiksia pada bayi baru lahir (Sarwono, 2007).
Berdasarkan
hasil penelitian diatas menunjukan dalam kurun reproduksi sehat dijelaskan
bahwa usia aman untuk kehamilan dan persalinan adalah pada usia 20-35
tahun.
2.
Umur
Kehamilan
Berdasarkan
Tabel 5.3 dapat diketahui bahwa kasus asfiksia berdasarkan umur kehamilan ibu
dari jumlah populasi 35 orang ibu bersalin di RSIA Aulia Jakarta Selatan pada
tahun 2011 terbanyak pada umur kehamilan preterm yaitu sebanyak 15 orang
(42,9%). Menurut penelitian Nika 2010 di RSUD Cibitung Bekasi data terbanyak
pada umur kehamilan aterm yaitu sebanyak 17 orang (51,3%) dari 32 orang ibu
bersalin dengan bayi asfiksia.
Persalinan
yang terjadi dibawah umur kehamilan 37 minggu dengan perkiraan berat janin
kurang dari 2500 gram. Resiko melahirkan preterm adalah tingginya angka
kematian, disamping itu dapat terjadi pertumbuhan mental dan fisik yang kurang
menguntungkan. Makin rendah berat badan lahir, semakin tinggi kejadian
morbiditas dan mortalitas. Bayi prematur sering mengalami gangguan pernafasan, perkembangan
paru-paru yang belum sempurna dan otot-otot pernafasan yang masih lemah juga
tulang iga yang mudah melengkung (Prawirohardjo, 2009).
Berdasarkan
hasil penelitian diatas menunjukan bahwa bayi yang mengalami asfiksia dapat
terjadi pada usia kehamilan preterm. Hal ini berbeda dengan hasil penelitian
Nika 2010 dengan hasil penelitian terbanyak yaitu pada umur kehamilan aterm.
3.
Anemia
Ibu
Berdasarkan
Tabel 5.4 dapat diketahui bahwa kasus asfiksia berdasarkan anemia ibu dari
jumlah populasi 35 orang ibu bersalin di RSIA Aulia Jakarta Selatan pada tahun
2011 terbanyak pada ibu dengan anemia ringan yaitu sebanyak 16 orang (45,7%).
Menurut penelitian Nika 2010 di RSUD Cibitung Bekasi data terbanyak pada ibu
dengan anemia ringan yaitu sebanyak 18 orang (56,3%) dari 32 orang ibu bersalin
dengan bayi asfiksia.
Anemia
pada kehamilan dapat mengakibatkan: persalinan prematur, perdarahan antepartum,
gangguan pertumbuhan janin dalam rahim, asfiksia intrauterin sampai kematian,
BBLR, gestosis, mudah terkena infeksi, IQ rendah dan bahkan bisa mengakibatkan
kematian (Mochtar, 2008).
Berdasarkan
hasil penelitian diatas menunjukan bahwa anemia pada ibu dapat menyebabkan
asfiksia pada bayi.
4.
Partus
Lama
Berdasarkan
Tabel 5.5 dapat diketahui bahwa kasus asfiksia berdasarkan partus lama dari
jumlah populasi 35 orang ibu bersalin di RSIA Aulia Jakarta Selatan pada tahun
2011 terbanyak pada ibu yang tidak mengalami partus lama yaitu sebanyak 20
orang (57,1%). Menurut penelitian Nika 2010 di RSUD Cibitung Bekasi data
terbanyak pada ibu yang tidak mengalami partus lama yaitu sebanyak 19 orang
(57, 4%) dari 32 orang ibu bersalin dengan bayi asfiksia.
Semakin
lama persalinan semakin tinggi morbilitas janin dan sering terjadi asfiksia
akibat partus lama. Sekali pun tidak terdapat kerusakan yang nyata, bayi pada
partus lama memerlukan perawatan yang khusus. Bahaya partus lama lebih besar
lagi apabila kepala bayi macet di perineum untuk waktu yang lama dan tengkorak
kepala janin terus terbentur pada panggul ibu. Partus lama kala II, bradikardia
janin kadang terjadi ketika ibu menahan nafas dalam waktu lama, dan usaha
mengejan ibu dapat meningkatkan tekana terhadap kepala janin. Efek pada janin
mengakibatkan oksigen dalam darah turun dan aliran darah ke plasenta menurun sehingga oksigen yang
tersedia untuk janin menurun, pada akibatnya dapat menimbulkan hipoksia janin
(Prawirohardjo, 2006).
Berdasarkan
hasil penelitian diatas menunjukan bahwa bayi dengan asfiksia terjadi pada ibu
bersalin yang mengalami partus lama.
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Berdasarkan
hasil penelitian ini yang telah dilakukan terhadap 1180 seluruh persalinan,
kasus ibu bersalin dengan bayi asfiksia di RSIA Aulia Jakarta Selatan tahun
2011 sebanyak 35 kasus, maka didapat kesimpulan sebagai berikut :
1.
Dari hasil penelitian
inidiketahui bahwa dari jumlah sampel 35 orang ibu bersalin dengan bayi
asfiksia, ibu bersalin dengan bayi asfiksia sedang terbanyak yaitu 14 orang
(40%), asfiksia ringan sebanyak 13 orang (37,1%), dan asfiksia berat sebanyak 8
orang (22,9 %).
2.
Berdasarkan umur ibu,ibu
yang berumur 20-35 tahun terbanyak yaitu sebanyak 14 orang (40%), yang berumur
<20 tahun sebanyak 11 orang (31, 4%), dan yang berumur >35 Tahun sebanyak
10 orang (28,6%).
3.
Berdasarkan umur
kehamilan,ibu dengan kehamilan preterm terbanyak yaitu sebanyak 15 orang
(42,9%), kehamilan postterm sebanyak 11 orang (31,4%), kehamilan aterm sebanyak
9 orang (25,7%).
4.
Berdasarkan anemia, ibu
dengan anemia ringan terbanyak yaitu sebanyak 16 orang (45,7%), anemia sedang
sebanyak 15 orang (40%), dan anemia berat sebanyak 5 orang (14,3%).
5.
Berdasarkan partus
lama, ibu yang tidak mengalami partus lama terbanyak yaitu sebanyak 20 orang
(57,1%) dan yang mengalami partus lama sebanyak 15 orang (42,9%).
B.
Saran
1.
Bagi Institusi Pendidikan
Diharapkan lebih
memberikan pembelajaran dan bimbingan pada mahasiswa agar lebih menguasai
materi sehingga penelitian yang dihasilkan menjadi bermutu dan berkualitas.
2.
Bagi RSIA Aulia Jakarta
Selatan
Dengan frekuensi
kejadian asfiksia yang masih tinggi maka petugas kesehatan khususnya bidan
sebaiknya melakukan deteksi dini secara cermat pada ANC dan persalinan yang
beresiko akan terjadi asfiksia, sehingga dapat meningkatkan mutu pelayanan
terutama pada pelayanan kesehatan ibu dan anak.
3.
Bagi Peneliti
Dengan adanya
penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan kreatifitas sehungga
memiliki kompetensi yang tinggi yang pada akhirnya akan meningkatkan kualitas
dalam memberikan pelayanan dan bekerja secara profesinal.
DAFTAR PUSTAKA
Abdul Bari, Saifudin (2008). Buku Acuan
Nasional Pelayanan Kesehatan
Maternal dan Neonatal. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjdo, Cipta,
Jakarta.
Dinkes Provinsi Jawa Barat (2008).
“Asuhan Persalinan Normal”. Computer.
Writing. Rhetoric, and literature. (Jurnal Elektronik),
Diakses 25 Agustus 2010.
http://www.diskes.jabarprov.go.id/
Hidayat, Aziz Alimul. 2008. Pengantar Ilmu Kesehatan Anak untuk
Pendidikan Bidan. Salemba Medika. Jakarta.
Manuaba, IBG, 2007. Ilmu Kebidanan, penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana Untuk
pendidikan Bidan. EGC. Jakarta.
Mochtar, Rustam. 2008. Sinopsis Obstetri. Jilid 1. EGC. Jakarta.
Notoatmodjo, Soekidjo. 2006. Metodelogi
Penelitian Kesehatan. Rhineka Cipta. Jakarta.
POGI, IBU, JNPK-KR. 2008. Asuhan
Persalinan Normal. Jakarta: Departemen
Kesehatan republik Indonesia.
Prawirohardjo, Sarwono (2009). Ilmu Kebidanan.
Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta.
WHO (The World
Health Report). (2010) ”Perbandingan Indonesia dengan Beberapa Negara”. Computer. Writing. Rhetoric, and Literature. (Jurnal Elektronik). Diakses 20 Agustus 2010: http://bankdata.depkes.go.id/.
Winkjosastro Hanifa, dkk (2006). Ilmu Kebidanan.
Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta.










0 komentar:
Posting Komentar