Kamis, 29 November 2012

Macet



Kita hampir selalu menemukan kemacetan lalu lintas setiap kali melewati jalanan di Kairo ini. Bahkan sampai ke gang-gang kita kerap berjalan tanpa leluasa karenanya. Bermenit-menit, bahkan berjam-jam kita habiskan waktu untuk keluar dari jalur macet. Begitu akrabnya kita dengan macet. Hampir kita tak bisa lolos dari macet karena pilihan yang nihil. Kalaupun ada itu hanya satu atau dua pilihan yang sarat konsekuensi pastinya. Sebut saja ongkos, jarak dan waktu. Jadi, untuk bisa menghindar dari kemacetan. Harus ada opsi pengorbanan yang kita lemparkan. Yang jelas ruwetnya arus lalu lintas tersebut membuat kita geram.

Seolah ikut terkena imbas kemacetan ini, ternyata Masisir juga mengalami hal serupa. Organisasi atau personal Masisir tengah terjebak dalam ruang stagnasi, macet lah kalau bahasa saya. Jika melihat jumlah organisasi yang ada, jumlahnya terbilang cukup banyak, namun ternyata jumlah tersebut tak sebanding dengan karya, kegiatan,  pergerakan dan prestasi yang ditampilkan.  Inilah indikasi bahwa Masisir tengah masuk ruang stagnasi.
Dengan demikian setidaknya ada beberapa permasalahan besar yang tengah kita hadapi. Pertama, organisasi sudah tidak berfungsi dengan baik sebagaimana mestinya. Ini adalah fase pertama yang menjadi mimpi buruk bagi komunitas. Lebih dari itu, kita perlu takut akan hal yang lebih buruk akan terjadi. Yaitu ketika kita memasuki fase dimana organisasi hanyalah beban bagi komunitas kita.

Kedua, setelah organisasi sudah tidak berfungsi dengan baik, maka akan muncul pertanyaan; dimana daya tarik organisasi? Ini jelas sudah tercermin dalam kehidupan organisasi kita sekarang. Contoh saja, tugas untuk mencari panitia acara susahnya bukan kepalang. Belum lagi panitia yang kerap kalang kabut karena beban target untuk mendatangkan partisipan dalam setiap gelaran kegiatan. Jelas ini problem yang terlahir ketika kita mulai mempertanyakan dimana nilai menarik dari organisasi.

Ketiga, sejumlah aktifis yang terlibat di berbagai dapur organisasi. Terlihat di sejumlah kegiatan dan berbagai organisasi dinahkodai oleh aktifis yang relatif sama, itu-itu saja. Keadaan ini berdampak pada orientasi organisasi terkait. Maka tidak mengherankan jika organisasi-organisasi programnya tak jauh berbeda atau hampir mirip satu sama lain. Ini bukan saja masalah dimana budaya mengikuti arus menjamur, namun yang lebih ditakutkan lebihd ari itu adalah lahirnya budaya plagiarisme kegiatan, bahkan karya.

Polisi Lalu Lintas

Untuk menghindari kacau balau lalu lintas organisasi ini, BPA PPMI masa bakti tahun 2011-2012 pernah berusaha melakukan perubahan. BPA melalui gelaran sidangnya, memutuskan untuk memangkas syarat jumlah anggota yang harus dimiliki sebuah organisasi. Poin ini dialamatkan kepada organisasi almamater dan kekeluargaan. Hal ini disebabkan karena asumsi akan jumlah Masisir yang berkurang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Juga di sisi lain pemangkasan ini dikarenakan kepentingan Temus (Tenaga Enerjik Mahasiswa Untuk Syariah) yang dibahas dalam sidang tersebut. Sayang, sekelas BPA hanya melihat masalah sebesar ini dari sisi Temus, bukan nilai pentingnya jalur organisasi yang normal.

Jika memang BPA adalah badan pengatur undang-undang organisasi, seharusnya ia bertindak sebagai polisi lalu lintas yang harus mengatur ruwetnya jalanan. Kalau saya boleh menganalogikan, organisasi Masisir ini adalah kendaraan-kendaraan yang ada di Kairo ini. Mobil-mobilnya berserakan di jalanan Kairo. Itulah mobil yang mungkin bisa dianalogikan sebagai organisasi-organisasi besar sekelas kekeluargaan atau afiliatif. Adapun organisasi kecil mungkin saja bisa kita sebut sebagai tuk-tuk (red: bajaj), atau kendaraan roda dua yang sering ugal-ugalan. Itulah jalanan Masisir kita. Tetapi kalau boleh menambahkan, ada lagi pengguna jalan. Mereka adalah personal Masisir yang bisa kita tempatkan sebagai pejalan kaki.  Terkadang mereka nekat menyeberang jalan, mengabaikan laju kencang kendaraan, atau mereka yang menjadi korban kecelakaan laju kendaraan.

Namun apakah pemangkasan bisa menjadi solusi dari kemacetan? Jika melihat keadaan lapangan sepertinya tidak. Masih banyak organisasi miskin anggota namun tak kunjung mendapat tindakan tegas. Padahal aturannya sudah jelas. Kalau tak memenuhi syarat seharusnya menggulung tikarnya sendiri saja. “Hidup enggan mati pun enggan”. Sepertinya ini dia slogan yang berkembang di organisasi kita yang mati suri. Kalaupun polisi lalu lintas belum bertindak tegas terhadap hal ini, seharusnya pengguna jalan sendirilah yang secara sadar memarkirkan kendaraan bututnya di tempat yang tidak mengganggu. Kalau tidak, bayangkan saja. Betapa nanti akan berserakan kendaraan butut, tak berpemilik, lalu mengganggu lalu lintas jalanan.

Kerja Bakti

Saya heran, apakah ini karena kita yang entah saling menunggu atau karena jalur lalu lintas yang menjebak dan tak memungkinkan untuk bergerak. Yang jelas kita semua sadar bahwa tengah terjebak macet panjang yang memilukan. Kita butuh sesegera mungkin adanya tindakan tegas, sebelum kita masuk pada fase yang terus menjerumus dalam lubang keparahan.

Kalau saja BPA memang nantinya bertindak sebagai polisi lalu lintas kita, berarti dialah yang berhak mengatur arus. Namun perlu dicatat pula, bahwa jalur akan terus macet kalau saja kendaraan masih dalam keadaan semacam diatas. Kita butuh kerja bakti massal yang digerakkan oleh semua elemen Masisir untuk membersihkan jalanan, lewat kesadaran bersama. Kecuali jika kita masih betah berlama-lama dengan keadaan ini.

Kairo, 28 November 2012

0 komentar:

Posting Komentar